Minggu, 11 Desember 2016

INI PENGALAMANKU MEMBUAT PASPOR DI PALEMBANG


Bulan Oktober lalu, akhirnya aku mendatangi Kantor Imigrasi Kelas I Palembang, yang beralamat di Jalan Pangeran Ratu, arah ke Pasar Induk Jakabaring. Sebenarnya sudah lama aku ingin membuat paspor. Bukan berarti sudah mau pergi menjelajah negeri luar, namun untuk berjaga-jaga saja siapa tahu tiba-tiba aku dapat jalan-jalan gratis. Soalnya tabunganku belum cukup untuk jalan-jalan ke luar negeri. :D

Allah kembali memberikan rezekinya lewat hobi menulisku. Kali ini adalah sebuah rezeki besar yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tiga bulan yang lalu (Bulan September), aku iseng mengikuti Program Sunsilk Holiday yang diadakan oleh Sunsilk Hijab. Kompetisi tersebut cukup mudah diikuti. Beli shampo sunsilk hijab 170ml dan conditionernya, lalu submit tulisan tentang impian, itu saja. Aku langsung ikut karena hadiahnya begitu menggiurkan. Holiday to Dubai! Bersama Laudya Cynthia Bella lagi! :D

Dan begitulah, aku berada di Kantor Imigrasi untuk mempersiapkan paspor. Saat membuat paspor itu aku belum tahu jadi salah satu pemenang atau tidak. Soalnya dari pihak sunsilk yang menelponku itu mengatakan kalau aku masuk sepuluh kandidat terpilih. Jadi tinggal menggugurkan empat peserta saja, karena yang dipilih hanya enam peserta. Walau memang nantinya aku tak terpilih, setidaknya aku sudah memiliki paspor. Hehe....

Jumat pagi, sekitar pukul 7.30 lewat beberapa menit, aku sudah tiba di Kantor Imigrasi Kelas 1 Palembang. Sebelumnya aku sudah membaca cara membuat paspor di internet. Ada dua cara, yaitu membuat paspor lewat online atau langsung membuat paspor di kantor imigrasi. 

Membuat paspor via online artinya kita mengisi formulir secara online. Setelah mengisi formulir tersebut, kita bisa langsung melakukan pembayaran dan memilih sendiri waktu ke kantor imigrasi untuk difoto dan wawancara. Sedangkan cara yang ke dua, kita mengisi formulir langsung di tempat, lalu mengantri dan mengikuti tahapan sesuai prosedur.

Aku memilih cara ke dua. Sebenarnya lebih praktis cara pertama, karena kita tidak mengantri lagi saat menyerahkan formulir. Akan tetapi, saat itu ada sebuah kesalahpahaman jadinya aku memutuskan tidak memakai cara online. Untuk teman-teman yang akan membuat paspor, sebaiknya via online saja ya, agar waktu mengantrinya lebih singkat.

Pertama kali, kita harus mengambil nomor antrian. Sangat tidak kusangka, orang yang mau membuat paspor ternyata banyak sekali. Waktu itu, aku sudah mendapat nomor antrian 60an (63 kalau tidak salah ingat). Bayangkan, padahal belum jam delapan pagi loh. Ternyata eh ternyata, setelah ngobrol dengan seorang ibu-ibu, orang yang mengantri itu sudah mengambil nomor antrian sejak jam setengah enam pagi. Aku bertanya kok bisa dari jam setengah enam, bukannya kantor baru buka jam setengah delapan. Ibu itu menjelaskan jika si satpam yang sudah siap di kantor, bisa mengambilkan nomor antrian. Ooh, seperti itu. Aku mengangguk-anggukkan kepala saja.


Selanjutnya setelah mendapatkan formulir yang kuambil di tempat terpisah, di luar ruangan kantor, aku kembali ke dalam kantor dan mengisi formulir tersebut. Oh iya, sebelum ke kantor imigrasi, siapkan sebuah materai, lem dan pena. Dan berkas-berkas yang harus dipersiapkan adalah ijazah asli, akta kelahiran asli, KTP asli dan Kartu Keluarga asli. Jangan lupa bawa fotocopy berkas-berkas tersebut sebanyak dua rangkap. Fotocopy-nya di kertas A4 semua dan untuk fotocopy KTP, dibiarkan selembar A4, jangan dipotong kecil.


Di dalam formulir, kita akan diberi pilihan untuk membuat paspor 24 halaman atau 48 halaman. Paspor 24 halaman biayanya kalau tidak salah yang tertera di formulir adalah Rp180.000 sedangkan paspor 48 halaman biayanya Rp355.000. Aku memilih paspor 48 halaman dengan pertimbangan tertentu.

Ketika nomor antrian dipanggil, aku langsung menyerahkan formulir yang sudah ditandatangani dan ditempel materai bersama berkas-berkas persyaratan. Petugasnya sempat bertanya aku mau pergi ke mana. Aku jawab saja ke Dubai. Dalam hati aku berkata, "Doakan ya, Mbak!" :D


Selesai pemeriksaan berkas dan formulir, aku diberi map berisi formulir tadi dan kembali diberi nomor antrian. Setelah ini aku akan masuk ke sebuah ruangan untuk difoto dan wawancara. Saat difoto, kacamata harus dilepas. Sambil mengisi data di komputer, petugasnya sambil bertanya ke kita. Mungkin ini yang disebut wawancara. Pertanyaannya hanya mau ke negara mana dan tujuannya apa. Dan tetap kujawab ke Dubai sambil di dalam hati berkata, "Doakan ya, Mas!" :D


Selesai dari tahap pengambilan foto, aku menuju loket pengambilan formulir pembayaran. Pembayaran dilakukan via bank. Oh iya, paspor baru jadi selama tiga hari ke depan setelah hari pembayaran. Aku langsung ke bank hari itu juga, biar Hari Rabu nanti paspornya bisa kuambil.



Hari Rabu pagi, sekitar pukul delapan aku tiba di kantor imigrasi. Langsung saja aku menuju ke loket pengambilan paspor. Bukti pembayaran dari bank aku letakkan di sebuah wadah yang telah disiapkan petugas. Kemudian dengan duduk manis aku menunggu namaku dipanggil. Tidak perlu mengantri lama, namaku sudah dipanggil bapak-bapak di dalam loket itu. Ia menyerahkan pasporku lalu ia memintaku menuliskan data diri dan nomor paspor serta tanda tangan di sebuah buku. Setelah itu, paspor pun sudah bisa dibawa pulang. Asyik! Aku sudah punya paspor sekarang. Hihii....




Begitulah pengalamanku dalam pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Palembang. Mudah, bukan? Untuk cara pembuatan paspor di kota lain, tidak begitu berbeda tahapannya. Selamat mencoba, Teman-teman. ^_^