Senin, 11 Desember 2017

Semua Tentang HIV/AIDS yang Penting untuk Diketahui




Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh virus tersebut yang dapat menurunkan kekebalan tubuh dinamakan penyakit AIDS (Aqcuired Immuno Defiency Syndrome). AIDS dikenal sebagai penyakit yang mematikan. Seperti beberapa tahun lalu, diagnosis HIV atau AIDS berarti menjadi lonceng kematian bagi penderitanya.


Kepedulian terhadap penyakit ini diwujudkan melalui peringatan Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Hari AIDS sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter. Mereka berdua merupakan dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia. Dr. Jonathan Mann, Direktur UNAIDS menyetujui ide dan rekomendasi dari Bunn dan Netter bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 1988.

Tiga pembicara dan satu moderator


Pada tanggal 04 Desember 2017 yang lalu, saya bersama blogger dan netizen Kota Palembang berkesempatan hadir di Acara Kementrian Kesehatan RI dengan tema Workshop Blogger #SayaBeraniSayaSehat dalam Rangka Hari AIDS Sedunia 2017 di Excelton Hotel Palembang.

Salah satu pembicara, Dr. Endang Budi Astuti (Kasubdit HIV AIDS dan PIMS) , memberikan kita pertanyaan-pertanyaan tentang seberapa jauh kita mengenal HIV:

1. Apakah dengan saling setia pada pasangan dapat mengurangi risiko tertular HIV?

2. Bisakah seseorang tertular HIV dengan cara menggunakan alat makan atau minum secara bergantian dengan seseorang yang terinfeksi HIV?

3. Bisakah seseorang tertular HIV melalui gigitan nyamuk atau serangga?

4. Dapatkah kalian mengetahui seseorang sudah terinfeksi HIV hanya dengan melihat fisiknya saja?

5. Bisakah seseorang memiliki risiko tertular HIV dengan cara menggunakan kamar mandi yang sama dengan ODHA (Orang dengan HIV AIDS)?

Berikut penjelasan-penjelasan yang benar mengenai HIV yang saya dapatkan dari salah satu pembicara:

a. HIV tidak mudah menular. Sebab penularannya sangatlah terbatas. Virus tersebut hanya bisa menular melalui hubungan seksual, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh, dan ibu hamil yang positif HIV akan menularkan ke bayinya.

b. HIV tidak akan menular oleh ciuman, pelukan, menggunakan toilet ataunkamar mandi yang sama, bersentuhan, menggunakan alat makan yang sama, gigitan serangga, dan tinggal serumah.

c. Seseorang yang terinfeksi HIV tidak dapat dilihat hanya dari fisiknya. Untuk mengetahui terinfeksi HIV atau tidak, hanya bisa diketahui melalui tes HIV.


Lalu, jika telah terkena HIV apakah ada obatnya?

Antiretroviral (ARV)


Seseorang yang dinyatakan terinfeksi HIV dapat diobati menggunakan  terapi Antiretroviral (ARV). Dengan kata lain, obat ini hanya memperlambat tumbuhnya virus, bukan untuk menyembuhkan. Terapi ARV ini diharapkan bisa membuat ODHA bisa hidup lebih panjang dan produktif.


Bagaimana Sikap Kita terhadap ODHA?

Apa sih yang terlintas pertama kali di benak kalian jika mendengar kata HIV, AIDS, ODHA? Ya, tentu banyak di antara kita yang memandang negatif mengenai tiga kata ini. Bagaimana tidak...HIV, AIDS, ODHA ini sudah terlebih dulu dikenal masyarakat sebagai penyakit menular dan penyebabnya juga dikarenakan perbuatan buruk si penderita. Apakah ini benar? Jawabannya, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Kita bahas satu-satu yuk!

Kenapa masyarakat kebanyakan menilai buruk terhadap ODHA, dianggap aib dan dipandang sebelah mata, bahkan mengucilkan dan menghina ODHA?

Ya, mereka tidak ingin ODHA menularkan virus dan penyakit itu ke orang-orang yang sehat karena HIV/AIDS dianggap penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan. Orang yang sudah terinfeksi HIV tidak akan bisa hidup normal lagi, kehilangan masa depan, dan usianya tidak lama. Ah, sebenarnya ini pernyataan yang keliru. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini saya mencoba mengajak kalian semua untuk membuka hati dan mata mengenai HIV,

Ketemuan dengan Mbak Ayu Oktariani, ODHA yang Sukses, Menikah, dan Bisa Hamil


Mbak Ayu Oktariani

Di acara inilah, banyak pengetahuan tentang HIV AIDS yang saya dan teman-teman blogger Palembang dapatkan. Kami juga dipertemukan dengan Mbak Ayu Oktariani, ODHA yang berhasil melawan stigma masyarakat dan berhasil bangun dari keterpurukannya.

Mbak Ayu bercerita awal mula ia tahu bahwa dirinya terinfeksi HIV ketika ia turut memeriksakan diri setelah sang suami divonis positif mengidap HIV pada tahun 2009. Suaminya memang memiliki riwayat sebagai pecandu Narkoba dan Zat Adiktif lain (NAPZA) di masa sekolah dulu. Tepat dua minggu setelah itu, ia kehilangan sang suami untuk selamanya. Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis. Mbak Ayu harus menanggung beban sendirian, membesarkan anaknya, belum lagi stigma-stigma yang diberikan masyarakat terhadap dirinya dan suaminya yanag meninggal karena HIV/AIDS. Atas dukungan keluarga, Mbak Ayu bangkit dan berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik.

Sampai pada akhirnya, ia memperoleh pekerjaan sebagai Pendamping Sebaya. Sebuah yayasan yang berfokus pada masalah sosial, kesehatan dan ekonomi masyarakat. Dengan pekerjaannya tersebut, ia bisa memberi pendampingan pada pengidap HIV yang baru saja terinfeksi. Pendampingan tersebut berfungsi untuk memberikan pendidikan dan penguatan mental pada sesamanya. Selain itu, ia juga tak segan mengoreksi tenaga medis lainnya yang memberikan informasi keliru maupun bertindak diskriminatif pada pasien HIV. Sebab Mbak Ayu pernah diperlakukan tenaga medis dengan kurang enak saat menjalani pengobatan.

“Suster saya dulu menceramahi dengan keras, ‘jangan nikah lagi ya mbak, jangan punya anak, nanti akan menulari penyakit’ dan ceramah yang lainnya,” kenang ibu yang masih berusia 31 tahun ini.

Keinginan Mbak Ayu untuk hidup normal dan memperoleh hak yang sama di masyarakat memang sangat kuat. Berbeda dengan yang dikatakan susternya dulu, dengan tegas ia menyatakan bahwa ODHA pun berhak punya pasangan, merencanakan kehamilan, bekerja, dan sebagainya. Berbekal pengetahuan yang matang seputar hal tersebut, Mbak Ayu berani menjalin hubungan dengan lawan jenis dengan keyakinan bahwa ia tak akan menulari pasangannya. Apalagi lelaki yang kini menjadi suaminya adalah seorang non ODHA.

Dilansir dari id.theasianparent.com, Mbak Ayu mengungkapkan jika sejak awal mereka saling mengenal, ia dan suaminya sudah tidak merasa asing lagi dengan persoalan HIV. Mbak Ayu juga merasa bersyukur bahwa keluarga suaminya juga tidak terlalu sulit dalam menanggapi hal ini. Sekalipun ia mengakui bahwa masih ada keluarga besarnya yang belum tahu bahwa ia adalah pengidap ODHA.

“Yang pertama, sejak awal non ODHA yang akan menikahi ODHA harus tahu betul bahwa yang akan dinikahnya adalah seseorang yang terinfeksi HIV,” terang Mbak Ayu ketika ditanya tentang tips berpasangan dengan cara yang sehat dengan pengidap ODHA.

Mbak Ayu melanjutkan bahwa pasangan juga wajib mengetahui tentang dasar penularan, pencegahan seperti wajibnya penggunaan kondom saat berhubungan seksual. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya untuk melakukan program tertentu saat ingin memiliki keturunan. Jangan lupa untuk saling mengingatkan tentang kewajiban konsumsi antiretroviral (ARV)-obat yang digunakan untuk memperlambat pertumbuhan virus, pada mereka yang terinfeksi HIV.

Jika ODHA ingin program hamil dan punya anak pun, semua petunjuknya sudah tertuang dalam aturan khusus tentang Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). Hal-hal yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Mengkonsultasikan kepada dokter, konselor, atau dokter kandungan jika ingin program. Jangan sampai keinginan untuk program hamil tersebut dilaksanakan tanpa mengecek kondisi pasangan.

2. ODHA wajib untuk mengkonsumsi ARV, untuk menekan jumlah pertumbuhan virus di dalam darah. Guna mengembalikan kondisi kesehatannya serta untuk mencegah penularan kepada pasangan/anaknya nanti. Konsumsi ARV ini berlangsung seumur hidup. Tidak hanya saat program hamil semata.

3. Jumlah CD4 (sel kekebalan tubuh) dan viral load (jumlah virus HIV), harus sesuai dengan standar yang ditetapkan, serta tidak memiliki infeksi menular seksual lainnya.


Setelah ini, marilah kita semua menjauhi tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan penularan HIV, bukan menjauhi orang-orang yang terinfeksi HIV. Mereka juga butuh dukungan dari kita semua. Dukungan, bantuan, perlindungan yang kita berikan pada ODHA, bisa menjadi salah satu cara kita bersyukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan pada kita.




Sumber:
Materi pada Workshop Blogger #SayaBeraniSayaSehat dalam Rangka Hari AIDS Sedunia 2017 di Palembang