Sabtu, 26 Mei 2012

Cerpen

About Love in Bamboo Forest


“Aduh!” Aku meringis kesakitan sambil berusaha mengangkat sepeda yang menimpa tubuhku. Sudah ditimpa sepeda, aku pun harus menikmati ‘manisnya’ lutut kaki kiriku tergores di jalanan depan Togaden ini.
“Dasar bodoh!” teriak keras seseorang di belakangku.
Aku menatap wajahnya, wajah laki-laki yang mengatakan aku bodoh. BODOH! Aaargh! Aku tidak terima.
Setelah bisa berdiri dengan sempurna, aku merapikan pita di rambut gelombangku. Ternyata rok rimpel-rimpel yang kukenakan sedikit sobek tergores aspal. Pantas saja lututku ikut tergores. Lantas kutatap dalam-dalam wajah si laki-laki yang dingin itu. “Hei! Kamu bilang apa tadi?!” ujarku menahan emosi.
“Aku bilang kamu bodoh! Masih kurang jelas? Dasar cewek ceroboh!” ujarnya sengit sambil membuang muka dan tanpa berdosa dia mengayuh sepedanya meninggalkanku.
“Hei, kamu! Dasar cowok pengecut!” teriakku keras dengan emosi yang menggebu. Lantas kukayuh sepedaku mengejarnya. Enak saja dia kabur setelah sengaja menyenggol sepedaku tanpa meminta maaf terlebih dahulu. Huh!
Ternyata laki-laki menyebalkan tadi mengayuh sepedanya dengan amat kencang. Ah, sepertinya aku akan ketinggalan jejaknya. Ya, sekarang tak lagi kulihat punggung laki-laki tersebut. Dan aku menarik napas, kecewa. Semoga di lain waktu aku bisa bertemu dengannya lagi dan memaksa dia untuk minta maaf padaku.
Pelan-pelan kutelusuri jalanan wilayah Sanjo siang ini. Orang-orang terlihat berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Wajah mereka masih secerah mentari pagi dengan senyum yang menghiasinya. Inilah yang kubanggakan dari penduduk Kyoto. Semangat dan wajah cerah mereka. Apalagi saat ini Kyoto sedang haru. Jadinya lengkap dan makin indah saja Kyoto-ku tercinta.
Sambil tetap mengayuh sepeda, kuganti lagu di walkman dan membenarkan posisi earphone di telingaku. Dan kini terdengarlah suara merdu Yui, penyanyi favoritku. Lagu yang berjudul ‘Stay with Me’, mampu membuatku melupakan kejadian yang menyebalkan tadi sekaligus melupakan rasa perih di lututku.
Setelah lima belas menit perjalanan, aku sudah sampai di depan rumah.
Tadaima!” seruku sambil membuka pintu dan langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua. Aku tergesa-gesa menuju kamar karena ingin membersihkan luka di sekitar lutut kaki kiriku. Saat luka lecet itu bertemu obat cair yang kuteteskan, rasanya pedih sekali. Aduh, aku jadi mengingat kembali wajah laki-laki yang menyenggolku saat mengendarai sepeda tadi. Awas saja kalau aku bertemu dengan dia lagi!
***
Ohayou gozaimasu, Miyuki!”
Ohayou gozaimasu!” jawabku membalas sapaan Yayoi, teman satu kelasku. Lalu aku tersenyum dan Yayoi pun membalas senyumanku dengan manisnya.
Selesai aku mengganti sepatu dengan uwabaki, kukunci kembali lokerku lalu menoleh ke arah Yayoi yang terlihat kebingungan sambil mengacak-acak isi tasnya.
“Ada apa, Yayoi?” tanyaku bingung.
“Miyuki, aku kehilangan kunci loker. Aduh!” jawabnya gusar sembari membongkar tasnya yang berwarna merah muda.
“Mungkin terselip saja,” kataku berkomentar sambil membuka lembaran buku di dalam tas Yayoi. Kunci loker sekolah kami memang berukuran kecil. Jadi kupikir mungkin kunci itu terselip di antara lembaran buku. Apalagi kunci loker Yayoi tidak diberinya gantungan kunci, sehingga sulit untuk menemukannya di dalam tas yang penuh.
“Setibanya di sekolah tadi aku sempat membuka tas untuk mengeluarkan komik. Mungkinkah kunci itu terjatuh ya?” Yayoi berucap dengan nada khawatir.
Aku mengerti kenapa ia jadi khawatir. Lima menit lagi pelajaran akan dimulai. Jika Yayoi belum menemukan kunci lokernya, itu berarti ia tidak bisa membuka lokernya dan mengganti sepatunya dengan uwabaki. Kalau tidak segera mengganti uwabaki,Sensei Terumasa tidak akan mengizinkan muridnya mengikuti pelajaran.
“Emm… mungkin juga kunci itu terselip di komik kamu, Yayoi. Sekarang komik itu ada di mana?” Aku bertanya setelah tak kutemukan kunci loker di antara buku-buku dalam tas Yayoi.
“Miyuki, komik itu sudah dibawa Satoru. Aku meminjamkannya karena dia mau mengantarku pergi ke sekolah hari ini,” kata Yayoi menjawab pertanyaanku. Kini Yayoi hanya terduduk di depan lokernya dengan wajah menyerah.
“Satoru?” ujarku mengulang nama yang disebutkan Yayoi.
“Dia tetangga baruku, Miyuki. Pindahan dari Osaka. Dia seusia dengan kita tapi sayangnya tidak bersekolah di sini,” kata Yayoi menjelaskan.
Aku mengangguk lalu tersenyum.
Tiba-tiba lantunan nada Fur Elise terdengar nyaring sebagai tanda waktu belajar akan dimulai. Beberapa anak terlihat sedang memakai uwabaki dan setelah itu mereka beranjak menuju kelasnya masing-masing untuk belajar. Aku masih terpaku di depan Yayoi yang menunduk. Beberapa detik kemudian dia mengangkat wajahnya.
“Miyuki masuk saja ke kelas. Aku akan mencoba menghubungi Satoru dan menanyakan apakah kunci itu terselip di komik yang dipinjamnya,”
Aku menggeleng. “Aku mau tunggu Yayoi saja,”
Yayoi tersenyum. Baru saja ia hendak menekan tombol di handphone-nya, nama Satoru sudah tertera duluan di layar. “Iya, Satoru. Arigatou gozaimasu! Tunggu ya!” kata Yayoi gembira saat ia berbicara dengan si penelepon. Setelah menutup handphone-nya, Yayoi menarik lenganku.
“Satoru ada di depan gerbang, Miyuki. Ayo temani aku! Nanti aku kenalkan kamu dengan dia.”
Aku mangangguk dan berjalan mengikuti Yayoi.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, kulihat sosok yang sudah tak asing bagiku. Dia tersenyum manis pada Yayoi tanpa melihatku. Ah, rasanya ingin kutelan bulat-bulat orang itu!
Ohayou gozaimasu, Satoru! Arigatou gozaimasu. Aku sudah khawatir tidak bisa ikut pelajaran hari ini kalau kunci lokerku sampai tidak diketemukan,” ucap Yayoi lembut pada Satoru.
Ohayou gozaimasu. Do itashimashite, Yayoi!” ujar Satoru masih dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Kuakui Satoru memang manis dan tampan, namun wajah itu menyebalkan bagiku.
Dan aku cukup terpesona dengan senyuman Satoru hari ini. Akan tetapi yang aku herankan ia bersikap manis pada Yayoi tapi tidak denganku. Apa karena kejadian kemarin? Eh, yang seharusnya marah itu ‘kan aku!
“Satoru, kenalkan ini Miyuki! Dia teman satu kelas yang paling dekat denganku, hehehe!” kata Yayoi mengenalkanku pada Satoru sambil mengerlingkan mata jenaka padaku.
Aku memasang senyum terpaksa. Tapi, Satoru sama sekali tidak membalas senyumanku. Ia hanya memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Bagus deh! Jadi dia bisa melihat lutut kiriku yang di perban tipis gara-gara kelakuannya yang tidak bertanggung jawab kemarin di depan Togaden.
“Eh, aku harus kenalan sama cewek ceroboh ini? Kok bisa kau berteman akrab dengan dia, Yayoi? Lihat itu lututnya akibat dari kecerobohannya sendiri!” ujar Satoru pada Yayoi sambil membuang wajah padaku. Lalu ia melihat ke arah pohon sakura yang berbunga indah di depan kolam sekolah.
Aku hanya terdiam. Rasanya ingin kubalas kata-kata ejekan dari Satoru. Tapi aku masih ingat bahwa Yayoi ada di sampingku dan lagi pula ini masih di lingkungan sekolah.
“Kalian sudah saling mengenal ya, Satoru? Eh, Miyuki kenapa tidak cerita padaku kalau sudah mengenal Satoru? Kalian kenal di mana?” tanya Yayoi keheranan sambil menatap kami berdua bergantian.
“Emmh, aku pergi dulu ya! Yayoi, jangan sampai hilang lagi kunci lokernya! Sampai ketemu nanti,” pamit Satoru pada Yayoi dengan tiba-tiba. Lalu ia segera mengayuh sepedanya menjauh dan lama-lama tak terlihat lagi oleh pandangan mata kami.
Yayoi memandangiku dengan wajah penasaran. Aku pun berlari meninggalkannya sebab aku yakin ia akan memaksaku bercerita kenapa Satoru bisa berkata seperti tadi padaku.
“Miyuki… tunggu!” teriak Yayoi padaku. Tapi tak kuhiraukan dan aku terus berlari sambil tertawa karena berhasil membuat penasaran teman akrabku.
***
Saat haru seperti ini, matahari akan terbenam cukup lama dan setelah itu langit mulai berubah warna. Lewat jendela kamar, aku duduk santai sambil membaca komik. Walau sedang membaca, mataku bisa saja mengedarkan pandangan ke arah lain termasuk ke atas langit. Kututup komikku dan meletakkannya kembali ke lemari buku. Kini aku lebih tertarik mengamati keindahan langit saat senja. Di tambah lagi saat ini bunga-bunga masih bermekaran dengan indahnya.
“Tok tok tok…” Pintu kamarku diketuk seseorang. Pasti itu haha.
Aku beranjak dari dudukku dan membuka pintu kamar. Haha tersenyum padaku dan berkata, “Sayang, tolong belikan tofu karaagedon set di Togaden ya!”
“Oke, Haha sayang.”
Setelah haha menyerahkan uang sejumlah 800 yen, aku langsung mengambil pita bermotif polkadot dan menyematkannya di sebelah kanan rambutku.
Ittekimasu!” kataku pamit seraya menuruni tangga.
Iterasshai, Miyuki!” pesan haha. Aku menoleh sejenak pada haha lalu mengangguk tersenyum.
Kukayuh sepeda menembus jalanan. Sengaja kukendarai sepelan mungkin karena aku sangat suka suasana Kyoto di kala senja menjelang malam seperti ini. Di sepanjang perjalanan, kulihat pohon-pohon sakura berbunga dengan lebatnya. Cantik! Aku melebarkan senyumku sambil berdendang kecil
Tak terasa aku sudah sampai di depan Togaden. Restoran ini memang baru dibuka pukul lima sore. Jadi sekarang lagi ramai-ramainya pelanggan yang berdatangan.
Selesai membeli tofu karaagedon set dan keluar dari area Togaden, angin bertiup cukup kencang hingga menerbangkan rambut panjangku yang bergelombang dan berombak. Pita polkadotku bergeser dari posisinya semula. Sejenak aku berhenti mengayuh sepeda dan membetulkan letak pita rambutku.
Bruuk!
Untuk ke dua kalinya, aku terjatuh karena ada yang menabrak dari belakang. Namun aku bersyukur kali ini sepedaku tidak menimpa tubuhku. Baru saja ingin memarahi orang yang seenaknya menabrakku, mulutku tak bisa berucap apa-apa.
Dia lagi! Tapi kali ini dia ikut terjatuh dan sepedanya menimpa tubuhnya sendiri. Syukurin! Ucapku dalam hati. Dia berusaha berdiri, tapi sepertinya kesulitan menyingkirkan sepeda sport-nya.
Aku jadi tak tega karena melihat wajah Satoru yang meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Aku segera menghampiri Satoru dan membantunya berdiri. “Kepala kamu berdarah, Satoru!” kataku hampir berteriak saat tak sengaja melirik ke arah kanan kening Satoru.
“Biasa saja kali! Dasar cewek aneh!” cetus Satoru memasang wajah kesal. Lantas tangannya diusapkan ke keningnya untuk memastikan kata-kataku.
Satoru mencari sesuatu dari dalam saku celana jinsnya. Tapi dia menelan ludah karena tidak menemukan apa yang ia cari. Aku mengambil sapu tangan dari dalam tas kecil di keranjang sepedaku dan menyerahkannya pada Satoru. Dia hanya menatapku lalu mengacuhkan uluran tanganku yang memberinya selembar saputangan berwarna biru muda.
Entah keberanian dari mana, dengan cepat kuusapkan saputangan ke arah kening Satoru untuk membersihkan darahnya yang pelan-pelan mulai mengalir.
“Hei, siapa yang suruh kau membersihkan lukaku?!” ujar Satoru dengan suara tertahan namun terkesan kesal dan membentak.
Aku hanya diam saja dan terus membersihkan darah di kening Satoru.
“Pelan-pelan! Sakit tahu!” bentak Satoru. Meski mulutnya berkata-kata membentakku, tapi tubuhnya berdiri kaku.
“Ada yang sakit lagi tidak, Satoru? Darah di keningmu sudah tidak keluar lagi. Sampai di rumah nanti langsung diobati ya,” kataku yang tiba-tiba berubah lembut. Padahal aku ingin membalas bentakannya padaku. Juga ingin menyuruhnya meminta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu. Tapi nyatanya aku tak bisa marah pada laki-laki yang berada di hadapanku kini.
Satoru memandangku dalam-dalam. Matanya yang indah seketika terlihat lebih teduh dari biasanya. Poninya yang berkeringat terlihat basah dan diusapkannya ke sebelah kiri. Lalu ia menunduk. Aku merasa dia salah tingkah. Entah apa penyebabnya.
Arigatou gozaimasu, Miyuki! Kamu kok jadi baik begini… ada apa?” Suaranya terdengar parau.
“Aku selalu baik pada semua orang termasuk pada orang yang menyebalkan seperti kamu,” jawabku jujur dan spontan.
Gomen nasai! Mungkin aku memang menyebalkan. Aku menyesali atas kejadian beberapa hari yang lalu. Lutut kaki kirimu sudah sembuh, kan?”
“Eh?”
“Dimaafkan tidak?”
Aku mengangguk lalu tersenyum. Dan Satoru pun tersenyum padaku. Ah, senyumannya terlihat sangat manis. Hatiku berdesir bahagia dan seperti ada kupu-kupu yang mengelitik perutku saat memandangi senyuman Satoru.
Tiba-tiba aku baru tersadar jika kami sedang berada di jalanan depan Togaden dan telah menjadi pusat perhatian beberapa orang. Sepertinya Satoru pun baru tersadar. Beberapa detik kami saling berpandangan lalu tertawa bersama.
***
Di sabtu sore, udara terasa cukup gerah. Mungkin karena haru akan berakhir dua hari lagi dan akan digantikan natsu. Berarti dengan segera pendingin ruangan harus disiapkan di rumah untuk menghalau udara panas yang akan datang berkunjung selama kurang lebih tiga bulan ke depan.
Namun aku bukan memikirkan natsu yang akan segera datang, tapi pikiranku terfokus pada pakaian dan penampilanku sore ini. Pukul lima, aku dan Satoru janjian untuk bertemu. Satoru mengajakku ke daerah Arashiyama. Tentu saja dengan senang hati aku terima ajakannya. Siapa yang bisa menolak jika diajak pergi oleh orang yang telah berhasil menarik hati kita?
Baju terusan yang anggun berwarna hijau dan putih. Kaus kaki putih dengan sepatu hitam. Rambut dikepang dua di samping, lalu diikat menjadi satu ke belakang dengan pita berwarna hijau. Begitulah penampilanku dan saat ini aku sedang berdiri di depan rumah menunggu kedatangan Satoru.
“Hai!” Satoru telah berdiri di hadapanku dan menyapaku. Matanya memperhatikanku lalu bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Aku membalas senyuman Satoru. “Kenapa, Satoru?” tanyaku bingung karena Satoru masih terus memandangiku.
“Emmh… kau manis sekali,” puji Satoru yang membuatku jadi salah tingkah. Aduh, jantungku kenapa berdetak cepat seperti ini sih.
“Eh, Satoru juga manis kok.” kataku memuji Satoru. Ia mengenakan jins hitam dan kemeja biru langit. Rambutnya yang tebal dan poninya yang menjuntai menutupi sebagian keningnya, makin terlihat manis dan aku tak bosan-bosannya mengagumi manusia di hadapanku ini.
“Aku sih sudah manis dari lahir. Kau baru tahu ya?” candanya sambil mengedipkan mata jenaka padaku.
Aku hanya tertawa.
Sesampainya di daerah Arashiyama, Satoru mengajakku memasuki The Sagano Bamboo Forest, sebuah taman bambu yang sangat indah dan menarik karena membentuk seperti tirai yang unik. Taman bambu seluas 16 kilometer persegi ini tidak hanya indah tapi suara anginnya dapat terdengar melalui rumpun bambu yang tebal. Sore ini banyak yang datang berkunjung dan menikmati lingkungan alam yang paling indah di Jepang ini.
Tiba-tiba Satoru memegang tanganku. Perlahan jemarinya mengisi sela-sela jemariku ketika kami mulai menelusuri area taman bambu yang sejuk, sesejuk hatiku saat ini. Aku yakin wajahku sudah bersemu merah. Apalagi jemari Satoru meremas lembut jemariku. Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menoleh ke arah Satoru di samping kananku. Jadi yang kulakukan hanya diam dan terus melangkah.
Sesampainya di belokan yang cukup sepi, Satoru menghentikan langkahnya. Ia menarik napas lalu dengan perlahan mengembuskannya. Kemudian aku memberanikan diri untuk menatap wajah Satoru. Ia terlihat gugup dan melepaskan jemarinya dari jemariku.
“Kenapa dilepas, Satoru?”
Satoru tersenyum dan ia berkata dengan wajah yang serius, “Apa aku boleh terus memegang tanganmu?”
Aku mengangguk dan kini mata Satoru menatap dalam-dalam ke mataku. Rasanya sinar mata teduh itu menembus sampai ke dalam aliran darah di tubuhku. Kembali kurasakan jemari Satoru memenuhi sela-sela jemariku.
“Miyuki, kau dan dia begitu mirip. Terutama sikap dan rambut gelombang kalian. Oleh sebab itu, saat pertama kali aku melihat dirimu, dengan sengaja kusenggol sepedamu dan tidak menolong kau yang terjatuh akibat ulahku. Itu karena aku membenci dia yang telah berkhianat,”
Kudengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Satoru dengan penasaran. Suara angin saat ini tak terdengar. Mungkinkah sang angin pun sedang mendengarkan kata-kata Satoru?
“Namun aku sadar, kalau kamu bukan dia. Sejak kau terjatuh saat itu, aku selalu memikirkanmu. Mungkin semua ini memang sudah menjadi takdir untuk kita, Miyuki. Aishiteru!
Aku memandangi mata Satoru seolah bertanya apakah kata-katanya itu sungguh-sungguh benar. Satoru mengangguk dan ia membawa tubuhku ke dalam dekapan hangatnya. Tanpa sadar aku menitikkan bulir bening dari kedua pelupuk mataku. “Aku juga mencintaimu, Satoru!” bisikku lirih di dekat telinga Satoru.
Tiba-tiba suara angin kembali terdengar. Namun kali ini lebih lembut dan merdu. Seolah menembangkan kidung cinta nan indah yang mengiringi kisah kasih kami berdua.
Index:
__________________________________________________________________
1. Togaden: Restoran yang terletak di Wilayah Sanjo ini menyajikan menu dengan berbahan dasar tofu (tahu) dan sayuran, tanpa ada daging.
2. Sanjo: Wilayah Sanjo adalah “Shinjuku”-nya Kyoto, di mana daerah ini menjadi pusat perbelanjaan dan fashion di kota Kyoto.
3. Haru: Musim semi.
4. Tadaima: Aku pulang!
5. Ohayoo gozaimasu: Selamat pagi
6. Uwabaki: Sepatu khusus untuk di sekolah. Uwabaki adalah sebuah tradisi Jepang untuk Membedakan orang luar dan orang dalam. Dengan Uwabaki, kelas gedung sekolah jadi tidak terlalu kotor.
7. Sensei: Panggilan hormat untuk guru.
8. Arigatou gozaimasu: Terima kasih!
9. Do itashimashite: Sama-sama.
10. Haha: Ibu
11. Tofu karaagedon set: Salah satu menu yang berbahan dasar tahu di Restoran Togaden. Harganya 800 yen.
12. Ittekimasu: Aku pergi!
13. Iterasshai: Hati-hati!
14. Gomen nasai: Maafkan aku!
15. Natsu: Musim panas
16. Arashiyama: Salah satu tempat menarik di Kyoto dengan pemandangan yang indah dan terletak di kaki gunung.
17. Aishiteru: Aku cinta kamu!



KOKYUU SHINAI MADE

          Taman Odori, Sapporo, Hokkaido
                Fuyu
                Aku memandang iri pada orang-orang di sekitar yang terlihat berbahagia dengan pasangannya. Ah, seandainya Yuki masih menjadi kekasihku. Tentu saja saat ini aku tak akan sendirian menyaksikan Festival Salju Sapporo. Tapi ya sudahlah, Yuki telah berbahagia bersama lelaki pilihannya. Harus kuterima kenyataan pahit jika Yuki lebih memilih dia. No problem. Aku tetap bisa baik-baik saja!
            Angin berembus dingin dan mengenai leherku. Ternyata syal yang menggulung leherku ini sedikit tak rapat. Aku membenarkan letak syal dengan cepat setelah itu kugosokkan kedua telapak tanganku supaya terasa sedikit hangat. Dinginnya salju terasa sampai di telapak kakiku. Salju… mengingatkan lagi tentang Yuki. Ya, Yuki mantan kekasihku!
Yuki sangat menyukai salju. Sudah dua kali kami datang ke Taman Odori ini untuk menikmati ratusan ukiran es dan patung salju yang berderet di sepanjang Taman Odori. Dua tahun kami pacaran, ternyata sama sekali tidak berarti baginya. Yuki mengkhianatiku. Dan aku hanya bisa menerima, meski rasanya sakit dan pedih. Seharusnya tahun ini aku tak usah datang ke sini. Tapi gejolak batinku menyuarakan agar aku datang, meski tanpa Yuki.
Langkah kakiku terhenti pada sebuah patung besar berbentuk Hello Kitty. Bukan patung itu yang membuatku tertarik, namun seseorang yang tengah menatap patung Hello Kitty dari salju itu. Dia seorang perempuan dan sepertinya seusia denganku. Iseng kudekati dirinya dan berdiri di sampingnya. Tak kusangka, wajah cantiknya telah basah oleh air yang keluar dari kedua mata indahnya.
“Ini….” Aku menawarkan saputangan padanya.
Dia bergeming. Namun wajahnya telah ditundukkan, tidak lagi menatap patung di hadapan kami.
Gomen nasai! Bukannya mau apa-apa, aku hanya menawarkan saputangan ini. Kalau saja kau membutuhkannya,” ujarku pelan sembari tetap menatap lekat pada gadis di sampingku.
Tangannya terulur dan meraih saputangan yang kutawarkan. Dengan segera diusapkannya saputangan coklat milikku ke wajahnya yang basah.
Arigatou gozaimasu, Besok datanglah ke sini lagi! Saputangannya akan kucuci dahulu,”
Setelah mengucapkan kalimat itu, dia berlarian entah mau ke mana. Aku hendak mengejarnya untuk menanyakan namanya. Namun segera kuurungkan.
***
            Hari ini aku menunggunya. Tepat di hadapan patung salju berbentuk Hello Kitty seperti kemarin. Namun sudah lebih dari satu jam, gadis yang berhasil membuatku penasaran itu belum juga datang. Sudah berkali-kali kurapatkan mantel. Siang ini udara terasa sangat menusuk hingga ke tulang. Kalau saja bukan untuk bertemu gadis itu, siang ini aku enggan untuk ke luar dari rumah.
            “Konnichiwa. Sudah lama kau menunggu? Gomen nasai!” ucap lembut si gadis dengan senyuman kecil namun terlihat sangat indah. Wajahnya lebih ceria dari kemarin, meski masih jelas tergambar jika wajah itu mengandung kesedihan.
            “Konnichiwa. Lumayan, hehe…. Daijobu desu.” Aku memasang wajah seceria mungkin agar gadis ini ikut ceria sepertiku.
            Dia tersenyum lagi. Lalu matanya memandangi patung Hello Kitty. Raut wajahnya berubah. Senyum yang tadi sempat ada di bibirnya, perlahan telah terhapus. Kini bibirnya beku dan dingin, seperti salju yang terhampar di sekelililng kami saat ini.
            Hampir sepuluh menit dia hanya terdiam murung. Aku bingung harus bagaimana. Dengan nekat kusentuh bahunya. Dia menoleh dan menatapku.
            “Eh, aku boleh tahu namamu? Aku Satoshi.”
            “Yuki.”
            Aku terbelalak kaget. Yuki? Nama itu…. Ah, kenapa harus nama itu lagi!
            “Pasti kamu sangat menyukai salju!” tebakku.
            “Emm, iya!”
            Aku tersenyum. “Yuki… artinya salju. Dan dugaanku benar, kalau kau menyukai salju.”
            Dia tersenyum. Dan kali ini terlihat lebih manis karena matanya menyipit.
            “Yuki, aku boleh bertanya sesuatu?”
            “Kau pasti ingin bertanya kenapa kemarin aku menangis?”
            Aku tertawa. “Iya, benar sekali! Hehehe!”
            “Besok kembalilah lagi ke sini, akan kujelaskan. Jika kau bersedia,”
            “Tentu saja!”
            “Aku pulang dulu, ya!” Pamit Yuki sambil menyerahkan saputangan berwarna coklat yang kemarin kupinjamkan.
            Belum sempat mengatakan sampai jumpa padanya, dia sudah berlari dengan cepat dan menghilang di antara ribuan orang yang menjejali area Taman Odori. Aku menarik napas pelan dan mengembuskannya di kedua telapak tanganku.
***
            Hari ini Yuki telah tiba terlebih dahulu. Kukejutkan gadis itu dengan menepuk pundaknya pelan.
            “Eh, Satoshi!” katanya terkejut.
            “Konnichiwa, Yuki!” sapaku lembut dan semangat.
            “Konnichiwa!” balas Yuki dengan senyumnya yang kusukai. Senyum itulah yang selalu terbayang di benakku dari hari kemarin.
            Yuki… entah kenapa sejak bertemu dengannya, aku merasakan sesuatu di hatiku. Aku tahu aku menyukai gadis dengan rambut panjang hitam dan gelombang ini, tapi kenapa bisa?
            “Satoshi! Kenapa kau diam? Memikirkan sesuatu, ya?”
            “Eh, iya. Memikirkan kau, Yuki!”
            Dia hanya tertawa menanggapi kata-kataku.
            Saat ini kami berjalan menyusuri Taman Odori yang sangat ramai. Bukan hanya orang Sapporo yang berada di sini, bukan pula orang-orang Hokkaido saja. Tapi ada juga pengunjung dari luar negeri. Festival musim dingin terbesar di Jepang ini akan berlangsung selama tujuh hari di Bulan Februari. Ini hari ke tiga, dan masih ada empat hari lagi. Semoga saja empat hari ke depan, aku masih bisa selalu bertemu dengan gadis yang sedang berjalan di sampingku ini.
            “Satoshi, kau tidak bersama kekasihmu?” Tiba-tiba Yuki bertanya sejak keterdiamannya sedari kami meninggalkan patung Hello Kitty tadi.
            “Iie! Aku dan dia sudah putus sejak awal aki kemarin.”
            “Gomen nasai!” ujar Yuki menyesal.
            “Daijobu desu. Aku sudah melupakannya sejak bertemu denganmu.”
            Aduh! Aku kelepasan bicara. Bagaimana ini kalau Yuki tidak menyukai kata-kataku.
            “Kau mau karaage, Satoshi? Atau mau takoyaki?“ Yuki menawarkan makanan khas daerah-daerah Hokkaido, yang dijual di kios dan tenda di depan kami saat ini.
            Sepertinya Yuki sengaja mengalihkan arah pembicaraan yang tidak sengaja kuucapkan tadi. “Takoyaki saja, Yuki!” kataku pada Yuki.
            Kami menikmati takoyaki dari wadah kertas sambil duduk bersantai di kursi taman. Sambil mengunyah, kuamati Yuki dari dekat. Cantik dan lembut! Namun aku merasa ada hal yang teramat menyiksa batinnya. Seandainya aku tahu dan bisa membantunya, pasti akan kulakukan. Apapun itu!
            “Yuki, kau berjanji padaku untuk bercerita hari ini!” tagihku dengan mengedipkan mata jenaka.
            “Eh, itu… iya. Aku habiskan takoyaki ini dulu, ya!” jawabnya tersenyum dan aku menganggukkan kepala.
            Tiba-tiba angin kencang sekali dan salju turun cukup banyak. Udara seketika berubah menjadi semakin dingin. Kulihat wajah Yuki sangat ketakutan. Kedua telapak tangannya dikepalkan erat dan didekatkan rapat pada mantel birunya. Topi mantelnya yang biasanya tidak dikenakan, sekarang dengan cepat ditutupkan pada kepalanya. Dia terlihat menggigit bibir bawahnya. Benar-benar seperti orang ketakutan.
            Salju semakin banyak. Seolah beterbangan dan menempel di mana-mana, termasuk di mantelku dan mantel Yuki. Dingin memang, namun aku termasuk salah satu orang yang menyukai adanya salju. Jadi aku dan Yuki tetap duduk di kursi taman ini. Tapi ada juga beberapa orang yang kulihat menghindari salju. Mereka masuk ke dalam tenda dan kios yang menawarkan aneka macam kuliner khas Jepang.
            “Satoshi, kita ke tenda saja!” pinta Yuki dengan suara bergetar.
            “Kenapa, Yuki? Bukannya kau menyukai salju?” tanyaku heran.
            “Aku…,” Bukannya menyelesaikan kata-katanya, Yuki malah menangis.
            Kekhawatiran menyergapku. Lalu kubawa tubuh Yuki ke dalam pelukanku untuk menenangkannya. Tak kuhiraukan berpuluh-puluh pasang mata menatap kami. Bagiku hanya Yuki yang penting saat ini.
***
            Hari ke empat, ke lima, ke enam dan sampai hari terakhir Festival Salju Sapporo, aku tak pernah lagi bertemu Yuki. Sungguh aku mengkhawatirkan gadis itu. Aku selalu menunggunya di depan patung salju Hello Kitty. Aku juga mengelilingi Taman Odori ini. Tapi aku tak menemukannya.
Penutupan festival ini sebenarnya sangat meriah meski dinginnya salju tak pernah lepas menyerang kulit. Namun aku merasakan kehampaan sekaligus kerinduan pada Yuki, gadis yang telah membuatku merasakan kembali sebuah perasaan yang menyegarkan hati. Sambil memandangi patung es Hello Kitty yang besar dan lucu di hadapanku, kembali kuingat cerita Yuki kenapa dia menangis ketika melihat patung es ini.
            “Hari itu… aku bersama adikku, Hanako. Kami hendak menyaksikan Festival Salju Sapporo. Hanako sangat menyukai patung es berbentuk Hello Kitty. Itu sebabnya Hanako memaksakan diri untuk pergi ke Taman Odori hari itu, meski kondisinya sangat lemah oleh penyakit asmanya. Adikku sudah menderita asma sejak usia sebelas tahun, Satoshi. Aku sangat menyayanginya. Aku tak mau kehilangan dia, sama seperti aku kehilangan kedua orangtuaku. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Hanako. Tapi takdir berkata lain, belum sempat melihat patung itu, Hanako ditabrak seseorang dan ia terjatuh. Ditambah lagi cuaca saat itu benar-benar bersalju dan amat dingin. Napas Hanako tersengal-sengal sambil memanggil namaku berulang kali. Aku mencari alat untuk membantu pernapasannya. Ternyata alat itu tertinggal di rumah. Beberapa menit kemudian napas Hanako sudah tidak ada lagi. Dan hari itu aku pun harus kehilangan adikku. Hiks….”
            Hatiku miris saat mendengar cerita yang dituturkan Yuki dengan berurai airmata. Wajar saja dia begitu. Siapa yang tidak bersedih saat kehilangan seseorang yang amat disayangi. Apalagi Yuki sudah tidak memiliki siapa-siapa. Gadis yang telah menarik hatiku itu telah benar-benar sendirian kini. Seandainya aku bisa, ingin sekali setiap saat aku menemani dirinya. Akan tetapi, aku tak tahu harus mencari dia ke mana. Aku tak pernah bertanya di mana tempat tinggalnya selama tiga kali pertemuan kami di taman ini.
            “Jika Yuki ditakdirkan untuk menjadi jodohku, aku percaya kami akan kembali bertemu….” Aku bergumam dan berharap di dalam hati.
Kutinggalkan Taman Odori ketika jarum pendek di jam tanganku menunjukkan angka delapan. Sengaja aku pulang saat langit sudah menjadi gelap seperti ini. Aku masih ingin menunggu Yuki, meski kutahu dia tidak ada di sini. Hari ini sudah lebih dari sepuluh kali aku bolak-balik ke tempat patung es Hello Kitty. Aku sangat berharap Yuki ada di sana menungguku di hari terakhir festival. Tapi sepertinya penantianku ini hanya berakhir sia-sia.
            Dengan langkah gontai, kutinggalkan salju-salju di Taman Odori. Saat langkah kakiku keluar dari area taman, kudengar sebuah suara memanggilku. Hatiku berdesir dan aku tak berani menoleh ke belakang. Aku pun tetap melangkah tanpa berniat untuk berhenti. Ya, itu karena aku takut ini hanyalah ilusiku saja. Namun, suara itu masih ada, masih meneriakkan namaku dengan sangat jelas dan indah. Seperti sebuah kidung yang menenangkan.
            “Satoshi! Satoshi…!”
            Kuhentikan langkah. Berdiri terpaku di atas salju yang sudah membeku. Dengan perlahan aku menoleh ke belakang, ingin membuktikan sebuah harapan yang tengah bermain di pikiranku. Dia… dengan rambut gelombangnya yang basah dan dihiasi putihnya salju yang menempel, berlarian menuju ke arahku.
            “Satoshi….” Dia kembali menyebut namaku dengan lirih sembari menatap lekat pada mataku.
            “Yu… Yuki, kau?” ucapku dengan suara bergetar. Ingin rasanya aku berteriak. Aku terlalu bahagia karena bisa bertemu kembali dengan gadis ini.
            Yuki tersenyum manis sekali. Aku memandangi wajahnya. Matanya memancarkan sebuah kerinduan untukku.
            “Gomen nasai, Satoshi! Tiga hari kemarin aku sengaja menghilang dan tak mau bertemu denganmu. Itu karena aku ingin melupakan perasaanku. Tapi ternyata aku tak bisa melupakan pertemuan kita begitu saja. Aku tak mampu menghapus bayang-bayang dirimu.”
            Kata-kata yang diucapkan Yuki seakan menjadi melodi terindah, juga sebagai jawaban atas keresahanku akhir-akhir ini. Segera kubawa tubuh Yuki ke dalam pelukanku.
            “Yuki, kau tak perlu melupakanku. Jangan kau lupakan aku!Kokyuu shinai made, tetap jangan kaulupakan aku! Daisuki dayo, Yuki!”
            “Benarkah itu, Satoshi?” Yuki melepaskan pelukanku dan menatapku dengan tatapan tak percaya.
            Aku mengangguk dan tersenyum. “Kau tak akan sendirian lagi, Yuki. Aku akan menemanimu selalu.”
            Dengan segera Yuki memelukku erat. “Ima made arigatou, Satoshi!”
Salju-salju yang telah membeku di sekitar Taman Odori menjadi saksi kisah kami berdua. Kisah kasih yang baru saja akan dimulai. Dan kali ini aku merasakan bahwa gadis yang memelukku saat ini adalah sebuah takdir terindah untukku. Semoga saja!

           
           
Index :
1.      Taman Odori, Sapporo, Hokkaido : Sebuah taman yang berada di Sapporo, Hokkaido. Tempat berlangsungnya pameran ukiran es dan salju berukuran sangat besar.
2.      Fuyu : Musim dingin.
3.      Festival Salju Sapporo : Festival salju terbesar di Jepang yang diadakan di kota Sapporo, Hokkaido. Berlangsung selama seminggu pada awal Februari.
4.     Gomen nasai : Maafkan aku.
5.      Arigatou gozaimasu : Terima kasih.
6.     Konichiwa : Selamat siang.
7.     Daijobu desu : Tidak apa-apa.
8.      Iie : Tidak.
9.      Aki : Musim gugur.
10.  Karaage : Jenis makanan gorengan yang digoreng dalam minyak panas.
11.  Takoyaki : Makanan berbentuk bola-bola kecil dari adonan tepung terigu dengan potongan gurita di dalamnya.
12.  Kokyuu shinai made : Hingga napas telah berhenti.
13.  Daisuki dayo : Aku benar-benar menyukaimu.
14. Ima made arigatou : Terima kasih untuk segalanya




GOMEN NASAI, SATORU

            Ohayou gozaimasu (Selamat pagi), Manami!” sapa Yumiko padaku yang baru saja selesai memarkir sepeda di parkiran depan.
            Aku tersenyum pada Yumiko dan membalas sapaannya, “Ohayou gozaimasu, Yumiko!”
            Sesaat Yumiko menatapku. Lalu ia berkata memujiku, “Hari ini Manami terlihat manis dengan bandana biru muda itu!”
            “Ah Yumiko, bisa saja deh!” jawabku dengan wajah sedikit merah karena malu dipuji Yumiko, sahabat terdekatku yang berwajah amat cantik.
            “Hahaha…, begitu saja Manami sudah malu. Ayo, kita segera ke loker! Jika telat mengganti Uwabaki (sepatu khusus sekolah), kita tidak akan diizinkan Pak Daiki ikut pelajarannya,” seru Yumiko di sela-sela tawanya.
            “Ayo! Kita lomba, ya. Siapa yang duluan sampai loker berarti menang dan boleh minta traktir Udon di Merogame Seimen, haha….!” teriakku yang langsung lari dengan kaki panjangku.
            “Huuu…, itu sih pasti menang kamu, Manami! Tubuh tinggimu pasti bisa lari mendahuluiku. Aku tidak mau!” bantah Yumiko. Tapi, dia tetap lari juga menyusulku yang tertawa-tawa.
            Aku dan Yumiko sudah bersahabat sejak satu tahun yang lalu. Kami berkenalan saat upacara penerimaan siswa baru di SMA-ku sekarang. Yumiko, gadis imut dengan wajah cantik, putih dan rambut lurus sebahu. Tubuhnya sedang dan langsing. Tubuh yang amat kuinginkan sejak dulu. Tahu kenapa? Aku, Manami Akane, gadis berusia hampir 16 tahun yang berbeda dari yang lain. Tinggi badanku melebihi anak-anak perempuan seusiaku. Rambut panjang yang kumiliki selalu dikucir dengan poni yang dijepit ke samping. Kulitku tidak putih karena sering bermain tenis di lapangan terbuka. Tak ada yang menarik dari penampilanku. Aku juga tak tahu apa kelebihanku. Ah, mungkin hanya di bidang tenis diriku ini cukup pandai dan bisa membanggakan.
            Kembali pada Yumiko. Sebenarnya, jika bisa mengubah takdir aku ingin menjadi gadis secantik Yumiko. Dikagumi dan disukai banyak orang. Banyak orang? Setelah kupikir-pikir tidak juga, ya. Yumiko hanya disukai dan dikagumi oleh para kaum laki-laki saja. Kalau dari kaum perempuan sih, menurutku banyaklah yang tidak menyukai Yumiko. Mereka iri pada kecantikannya juga keanggunan dan kelembutan sifatnya. Itulah sebabnya, hanya aku yang mau bersahabat dekat dengan si cantik Yumiko.
***
            Sekarang mulai memasuki minggu ke dua di bulan Agustus. Kyoto, masih dalam Natsu (musim panas). Beruntungnya aku bisa lahir dan besar di Kyoto karena di saat musim panas begini, masih ada bukit-bukit sejuk sebagai penawar musim panas. Di musim panas ini juga, sekolahku sering mengikuti perlombaan di bidang olahraga, terutama tenis. Aku, si gadis jangkung selalu dipilih guru untuk mewakili sekolah dalam turnamen tenis. Tak jarang, setiap habis pertandingan, aku selalu membawakan piala untuk sekolah. Para guru dan senpai (senior) bangga padaku. Aku bersyukur karena Tuhan masih memberikan satu kelebihan di balik banyaknya kekuranganku.
            Keringat bercucuran membasahi kening dan leher. Kuletakkan raket di pinggir lapangan dan duduk di sana. Air mineral dalam botol kuteguk perlahan. Dari kejauhan, kulihat Kak Satoru bersama teman-temannya lagi berbicara dengan guru pelatih tenis yang baru. Kalau tidak salah dengar namanya Pak Arata. Senpai memang belum mengenalkan Pak Arata kepada kami. Wajar saja jika aku dan para kohai (junior) belum tahu nama pelatih baru itu
            “Manami, kamu makin hebat, deh! Tadi aku hampir kewalahan menghadapi gerakanmu yang amat lincah,” puji Aika, lawan mainku beberapa menit yang lalu.
            “Tidak juga, Aika. Aku mesti banyak belajar, nih. Biar bisa menembus pemain nasional sekalian go internasional, hehehe…,” ujarku sambil tersenyum.
            Aika membalas senyumku. “Pasti bisa. Manami kan jago di lapangan, tadi saja Aika kalah terus,”
            Sudah sering kudengar pujian orang tentang permainan tenisku. Entah dari mana bakat bermain tenis ini ada padaku. Baru di kelas dua ini aku masuk klub tenis. Untung saja di awal tes masuk klub tenis, permainanku mengesankan sehingga bisa diterima. Kurang lebih dua bulan berlatih aku sudah pandai bermain tenis hingga pernah mengalahkan senpai.
Kak Satoru, cowok tinggi putih dengan rambut menutupi sebagian keningnya, telah berhasil mencuri hatiku saat kenaikan kelas dua kemarin. Setelah aku tahu pujaan hatiku itu adalah anggota inti dari klub tenis, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri di klub tersebut. Awal mulanya kenapa bisa jatuh hati pada Kak Satoru karena aku menabrak dirinya ketika berlarian menuju kelas fisika. Kak Satoru terjatuh, lalu aku berniat meminta maaf padanya. Namun saat Kak Satoru mengangkat wajahnya dan menatapku, dengan cepat kupalingkan wajah dan meninggalkannya tanpa sempat meminta maaf. Aku terlalu gugup berhadapan dengan cowok cakep dan manis seperti Kak Satoru. Setelah itu, kuikrarkan di dalam hati jika mulai detik ini aku telah jatuh cinta padanya.
“Daaarrr…, melamun saja! Melamunkan apa sih?” tanya Yumiko yang tiba-tiba sudah berada di belakangku dan menepuk pundakku cukup kuat hingga membuatku terkejut.
“Tidak melamun, kok. Yumiko sudah selesai dari klub tatacara perjamuan minum teh?” jawabku dan balik bertanya pada Yumiko yang wajahnya kini terlihat sangat bahagia.
Hai (Iya), Manami. Oh ya, senpai kalian yang bernama Satoru itu yang mana, ya?”
Aku terdiam sesaat ketika Yumiko menanyakan Kak Satoru.
“Manami, kenapa diam?”
Lie (Tidak), itu yang sedang berdiri tepat menghadap guru pelatih yang mengenakan topi merah,” jelasku sambil menunjuk ke arah Kak Satoru.
“Aduh, cakep juga!” decak Yumiko kagum sambil terus mengamati Kak Satoru.
Dalam hati aku berdoa semoga Yumiko tidak jatuh cinta pada Kak Satoru. Jika iya, tentu aku akan kalah dengan Yumiko. Dengan penuh kepercayaan kupastikan Kak Satoru akan lebih memilih gadis seperti Yumiko dibanding diriku.
***
Hari Minggu yang damai. Kubuka jendela kamarku dan kusaksikan suasana pagi dengan mentari yang masih tersenyum memancarkan sinarnya untuk Kyoto. Masih seperti pagi-pagi sebelumnya, Kyoto dibungkus kehangatan dan dilapisi sakura-sakura nan cantik. Dari jendela kamar, aku bisa memandangi Philosopher's Path. Kuakui Kyoto memang cantik dengan pesona Jepang kunonya, namun Philosopher's Path saat Haru (musim semi) adalah salah satu tempat terindah dan teromantis. Ratusan pohon sakura berbaris di jalanan pinggir Kanal, membuat kuil-kuil yang berada di sekitar jalan tersebut terlihat makin indah. Sekarang pun saat musim panas, kecantikan sakura masih mewarnai Philosopher’s Path.
Haha (Ibu) terlihat sibuk memanggang roti di dapur. Kucium pipi kanan orang yang amat kucintai ini dengan tubuh masih basah sehabis mandi. Haha cuma bisa geleng-geleng kepala. Lalu dengan segera, aku naik kembali ke kamarku untuk mengeringkan badan dan merapikan diri.
“Manami keluar dulu ya, Bu!” teriakku berpamitan pada haha seraya mengambil satu lembar roti panggang di meja.
Iterasshai (Hati-hati di jalan), Manami! Lebih baik makan rotinya di rumah!” nasihat haha sambil memandangiku yang terburu-buru.
“Tidak sempat, Bu!” seruku lalu melangkahkan kaki menuju pintu.
Kukayuh sepedaku dengan cukup cepat. Semoga bisa sampai tepat waktu. Mataku menyapu jalanan wilayah Sanjo. Bersih dan rapi. Orang-orang berlalu lalang masih dengan kesibukan masing-masing walau hari ini hari libur. Sama seperti diriku yang entah kenapa pagi ini tergesa-gesa menuju Togaden, restoran tofu (tahu). Bukan berniat untuk makan tofu karena memang Togaden buka jam lima sore. Tapi demi menuntaskan rasa penasaranku atas cerita Yumiko tadi malam.
Yumiko menelponku dan mengatakan bahwa hari ini pukul 9 pagi, dia janjian bertemu dengan Kak Satoru di depan Togaden. Aku meringis mendengarnya dan berniat untuk tidak ambil pusing. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku terus memikirkan dan penasaran apakah pernyataan Yumiko benar.
Aku menghentikan sepedaku dan menatap dua manusia yang sedang berdiri di depan Togaden. Yumiko dengan rok merah muda dan atasan putihnya terlihat makin menarik, ia tertawa kecil sambil menatap Kak Satoru yang sedang berbicara sesuatu yang mungkin cukup lucu hingga menimbulkan tawa di antara mereka. Rasanya dada ini bergemuruh melihat keakraban mereka. Aku tak menyangka Yumiko bisa langsung akrab dengan Kak Satoru dalam waktu satu hari saja. Tapi tak bisa disalahkan, itulah Yumiko yang memang dari sananya memiliki daya tarik hingga mudah bergaul dengan semua laki-laki dalam waktu singkat.
Aku berniat mengayuh kembali sepedaku untuk pulang. Tapi Yumiko menyadari keberadaanku.
“Manami…!” panggil Yumiko sambil melambaikan tangannya menyuruhku menghampirinya. Mau tak mau aku pun menoleh dan menuju ke sana.
Ohayou gozaimasu, Yumiko. Ohayou gozaimasu Kak Satoru…,” sapaku pada mereka.
Ohayou gozaimasu, Manami.” balas Kak Satoru dan Yumiko berbarengan. Mereka berdua berpandangan lalu tertawa bersama.
“Aduh, kenapa kita bisa bareng membalas ucapan Manami ya, Satoru? Hehehe…,” ucap Yumiko kecil sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum, tepatnya pura-pura tersenyum menutupi kecemburuanku karena Yumiko dengan begitu cepatnya bisa dekat dengan laki-laki yang kusukai. Apalagi Yumiko telah memanggil Kak Satoru hanya dengan namanya. Ah, rasanya aku ingin cepat-cepat pergi dari sini.
“Manami dari mana dan mau ke mana?” tanya Kak Satoru padaku.
“Tadi dari minimarket. Habis itu keliling sebentar dan ternyata ketemu Kakak dan Yumiko, hehehe….” jawabku berbohong.
“Oh…,” kata Kak Satoru singkat.
“Manami, mau ikut kami tidak ke Fushimi Inari?” tawar Yumiko padaku.
Kami? Berarti Yumiko dan Kak Satoru akan ke Fushimi Inari. Aku terbayang ciri khas Fushimi Inari yaitu deretan kayu yang menjadi gapura-gapura bersusun berwarna orange dan hitam. Kontur tanah yang berbukit menjadi ciri khas jika semakin ke dalam area, semakin menanjak. Sudah lama diriku tidak ke sana sejak chici (ayah) meninggalkan haha dan aku demi wanita lain.
“Hei, kok malah melamun. Mau tidak, Manami?” tanya Yumiko lagi sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.
“Eh, tidak. Maaf Yumiko. Hari ini aku membantu haha membuat pesanan kue,” jawabku. “Aku duluan ya, semoga ke Fushimi Inari kalian menyenangkan,”
Yumiko tersenyum dan melambaikan tangannya ketika aku kembali mengayuhkan sepeda, sementara Kak Satoru hanya diam saat aku berpamitan.
Sesampainya di rumah, haha sudah sibuk menyusun kue-kue yang akan diantarkan kepada pemesan.
“Manami, siang nanti sekitar pukul 1 tolong antarkan kotak berwarna hijau itu ya!” kata haha yang melihatku sudah duduk di kursi sambil menuangkan minuman jeruk buatannya.
Aku mengangguk lalu tersenyum. Sebenarnya aku ingin bekerja paruh waktu untuk meringankan beban ibuku. Tapi haha tidak memperbolehkanku bekerja. Cukup belajar dengan rajin dan menjadi anak pandai sehingga bisa bekerja yang baik nantinya, itu pinta haha padaku. Aku pun berjanji, akan menjadi anak yang baik, bisa membanggakan dan membahagiakan haha.
Sambil meneguk minuman, aku membayangkan Yumiko yang kini tengah berjalan berdua dengan Kak Satoru. Apakah mereka sudah menjadi sepasang kekasih? Apakah Kak Satoru menyukai Yumiko dan Yumiko juga menyukai Kak Satoru, ya? Aku tidak tahu itu. Hanya yang kutahu jika saat ini aku merasakan kehampaan.
***
            “Aku menyukai Satoru, Manami. Menurutmu bagaimana? Apakah Satoru akan menerima cintaku?” kata Yumiko saat istirahat pergantian palajaran.
            “Yumiko gadis yang cantik, laki-laki manapun akan menyukai Yumiko termasuk Kak Satoru,” jawabku sekenanya.
            Yumiko tersenyum sumringah. Lalu ia berkata lagi, “Pada Festival Gozan no Okuribi nanti, aku akan menyatakan cinta pada Satoru,”
            Aku kaget. “Yumiko yang akan menyatakan duluan?” tanyaku pada Yumiko yang terlihat bahagia. Aku belum pernah melihat wajah Yumiko secerah itu. Apakah karena ia telah benar-benar jatuh cinta pada Kak Satoru hingga membuat dirinya seperti itu?
            Yumiko menganggukkan kepala cepat. “Hai, Manami!” jawab Yumiko mantap.
            “Ganbatte kudasai (Selamat berjuang), sahabatku! Semoga semuanya lancar. Jangan lupa mentraktirku makan udon jika berhasil!” kataku sambil mengerlingkan mata jenaka pada Manami.
            “Oke, mudah itu! Hahaha…,” Manami tertawa dengan bahagia.
            Munafik, aku benar-benar munafik. Bisa-bisanya aku mendoakan Yumiko berhasil dengan Kak Satoru. Padahal hatiku sedang dibakar api cemburu. Ya Tuhan, aku berharap Kak Satoru tidak menerima cinta Yumiko, doaku dalam hati. Tapi, alangkah jahatnya diriku pada sahabat sendiri.
            Aku baru merasakan perasaan mereka, para gadis yang membenci Yumiko, karena Yumiko telah merebut perhatian cowok-cowok yang diincar mereka. Aku sudah menetapkan hati untuk tidak ikut membenci Yumiko, tapi saat ini kenapa rasa itu tiba-tiba ada. Rasa sedikit kesal karena Yumiko menyukai Kak Satoru. Jika aku mulai membenci Yumiko, aku merasa yang jahat itu aku.
            Bukan kehendak Yumiko yang terlahir dengan kecantikan lebih dan memiliki daya tarik yang memikat. Jadi tak seharusnya mereka atau pun aku dengan seenaknya menyalahkan Yumiko. Yumiko tetap gadis yang berhak mendapatkan sahabat dan dapat diterima dengan baik olehku dan oleh mereka.
            Selesai sekolah hari ini, seperti biasanya aku segera menuju klub tenis. Yumiko sendiri ke klub tatacara perjamuan minum teh. Dalam hati aku berucap, untung saja Yumiko bukan anggota klub tenis. Jika iya, tentu Yumiko akan terus bersama Kak Satoru. Aku yang hanya bisa menyukai diam-diam tentu akan sangat menderita menahan cemburu.
            Setelah meletakkan tas di ruangan klub, aku segera menuju lapangan. Akan tetapi kohai kelas 1 belum menyiapkan dan membersihkan lapangan. Bisa-bisa senpai kelas 3 akan marah jika melihat lapangan dalam keadaan begini. Aku tak ingin itu terjadi. Lalu dengan cepat kubersihkan lapangan dan mengaturnya.
            “Manami, kenapa kamu yang membersihkan lapangan? Mana kohai kelas 1?”
            Aku menoleh ke belakang, ternyata Kak Satoru.
            Dengan berdebar-debar aku menjawab, “Mungkin mereka masih belajar di kelas, Kak.”
            Aku tersentak ketika Kak Satoru ikut membantuku menyiapkan lapangan.
            “Kak…. Emm, tidak usah, Kak. Nanti senpai yang lain melihat. Mereka marah jika Kakak ikut bekerja,” kataku yang tak dihiraukan Kak Satoru.
            “Satoru…!” panggil Yumiko yang sudah berada di dekat kami.
            Kenapa Yumiko datang sih, gerutuku dalam hati.
            Kak Satoru memberikan senyuman yang indah untuk Yumiko. Aku baru sadar senyuman itu sangatlah spesial dan hanya untuk satu orang, Yumiko.
            “Yumiko bawa kyogashi untuk Satoru. Dimakan, ya!” kata Yumiko pada Satoru sambil menyerahkan kotak berisi kue khas Kyoto.
             “Arigatou gozaimasu (Terima kasih), Yumiko. Kamu membuat kyogashi sendiri?” tanya Kak Satoru sambil memandang lekat pada Yumiko.
            Yumiko tersipu. “Hai, Satoru. Khusus untuk Satoru, hehehe….”
            Yumiko dan Kak Satoru berbicara seolah tak ada aku. Mereka mengacuhkanku. Lebih baik pergi menjauh dari mereka. Aku berlari menuju ruangan klub. Airmata membasahi kedua belah pipiku. Kubenamkan wajah di atas tas. Menangis, menumpahkan kesedihanku.
***
            “Itadakimasu (Selamat makan), Sayang. Makan yang banyak ya, biar makin tinggi dan pintar, hehe…,” ujar haha bercanda dengan mengucapkan doa biar makin tinggi.
            Aku hanya tersenyum kecil. Tak biasanya sikapku begitu. Biasanya jika haha menggodaku, aku akan teriak-teriak lalu dilanjutkan dengan tertawa.
            “Manami, kamu kenapa? Wajahmu menyiratkan kesedihan begitu,”
            “Tidak apa-apa, Bu. Manami hanya kelelahan. Manami naik dulu, ya. Mau langsung tidur,”
            “Makanannya dihabiskan dulu, Sayang!”
            “Sudah kenyang, Bu.” jawabku yang langsung mempercepat langkah menaiki tangga.
            Di dalam kamar, aku duduk memandangi langit malam yang bertabur bintang lewat jendela kamarku. aku termenung memikirkan perasaanku. Sungguh aku telah benar-benar  merasakan minder karena berbeda dengan yang lain. Punya orangtua yang tidak lengkap, kehidupan ekonomi yang pas-pas an, tubuh tinggi menjulang namun kurus tidak berisi, wajah yang standar dan parahnya memiliki perasaan terpendam pada laki-laki yang hampir sempurna. Ah, pikiran apa ini? Bisa-bisanya aku mencela diri sendiri. Padahal Tuhan telah menciptakanku dengan sebaik-baiknya dan selalu memberikan nikmat-Nya yang cukup buatku.
            Besok tanggal 16 Agustus, artinya Festival Gozan no Okuribi akan segera tiba. Festival yang diselenggarakan dari petang hingga malam ini akan menerangi Kyoto dengan aneka karakter Jepang dan simbol kebudayaan dari api, menyala di gunung-gunung yang mengelilingi Kyoto. Aku sudah membayangkan keindahan dan keramaian di festival tersebut. Bahkan aku pernah bermimpi keluar di malam hari berdua dengan Kak Satoru ketika Festival Gozan no Okuribi.
            Angin malam membelai wajah sedihku. Sejak Yumiko mengenal Kak Satoru perasaan sedih selalu melanda hati ini. Aku tahu, beberapa gadis di sekolahku menyukai Kak Satoru, tapi aku biasa-biasa saja karena Kak Satoru tidak menanggapi mereka. Entah kenapa, saat Yumiko yang menyukai Kak Satoru aku tidak bisa biasa-biasa saja. Aku terlarut dalam kesedihan. Merasa takut Yumiko bisa merebut hati Kak Satoru.
            “Angin, sampaikan salamku untuk Kak Satoru!” kataku lirih pada angin yang kembali membelai wajahku.
***
            “Eh, sudah tahu belum jika Kak Satoru sekarang lagi dekat dengan anak kelas 2 bernama Yumiko. Aku sih menyerah saja, karena tak mungkin bersaing dengan Yumiko yang cantik itu,” kata salah satu anak kelas 1 pada temannya yang terlihat cemberut mendengar pernyataannya.
            Ternyata berita tentang kedekatan Yumiko dan Kak Satoru sudah meluas. Aku hanya menelan ludah mendengarnya.
            “Manami, benar ya jika Yumiko dekat dengan Kak Satoru? Yumiko jahat, deh! Masa semua cowok keren di sekolah kita ingin dimilikinya semua!” seru Aika yang menghampiriku. Sedikit tersedak aku mendengarnya karena sedang meneguk minuman.
            “Emm.... Hai, Aika.” jawabku pendek setelah itu kembali kuteguk habis air di dalam botol.
            Aika meninggalkanku. Aku tahu ia kecewa, sama seperti diriku.
            Aku berjalan meninggalkan lapangan tenis. Sudah hampir sore, jadi kuputuskan untuk segera pulang. Dengan berjalan gontai aku menuju ruangan klub tenis. Baru saja langkah kakiku akan menapaki ruangan itu dan tanganku akan membuka pintu, aku mendengar suara kecil. Kuurungkan niat untuk masuk mengambil tas. Dengan seksama aku mendengarkan percakapan dua orang di dalam.
            “Gomen nasai (Maafkan aku), Yumiko! Saat ini aku tak bisa,”
            Aku amat mengenal suara itu. Suara Kak Satoru.
            “Kenapa? Apa ada gadis lain yang disukai Satoru? Jadi apa artinya selama ini Satoru mendekatiku?”
            Ini suara Yumiko. Tiba-tiba pintu terbuka, Kak Satoru keluar dengan wajah marah dan kesal. Baru kali ini aku melihat wajah Kak Satoru seperti itu. Kak Satoru memandangiku sesaat lalu pergi.
            Aku melangkah masuk dengan perlahan. Yumiko sedang duduk sambil menundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di meja.
            “Yumiko…,” panggilku sambil membelai rambutnya.
            Yumiko mengangkat kepalanya. Kini wajah cantiknya basah oleh airmata. Aku tak mengerti.
            “Satoru menolakku, Manami! Aku sangat menyesal menyatakan cinta padanya. Benar-benar tidak tahu diri! Apa coba kekuranganku sampai ia tak menerima cintaku?” Satoru jahat, sok cakep dan munafik!” jerit Yumiko.
            “Hentikan, Yumiko! Tasukete (Tolong)! Kak Satoru tidak begitu,” belaku yang membuat Yumiko terbelalak. Aduh, kenapa aku membela Kak Satoru. Bisa-bisa perasaanku dapat dibaca Yumiko.
            “Kenapa Manami membela Satoru?” tanya Yumiko mulai menangis lagi.
            Aku membawa tubuh Yumiko ke dalam pelukanku. Mencoba menenangkannya.
            “Yumiko, bukankah katamu pada saat festival malam ini akan menyatakan cinta pada Kak Satoru. Lalu kenapa kamu lakukan sekarang?” tanyaku setelah Yumiko cukup tenang.
            “Aku ingin Satoru segera jadi kekasihku. Jadi malam nanti tinggal merayakannya. Tapi keinginan itu tidak terwujud. Aku heran ada apa di pikiran Satoru sampai-sampai ia menolakku,” jelas Yumiko dengan sinis karena ia tak menerima penolakan Kak Satoru.
            Aku terdiam. Yumiko terlihat begitu marah dan sedih. Wajar saja karena lelaki pilihannya menolak cintanya, padahal banyak lelaki lain yang menginginkan cintanya.
            Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, aku memikirkan kejadian antara Kak Satoru dan Yumiko. Perasaanku sekarang tak menentu. Ada rasa bahagia karena ternyata Kak Satoru tidak memiliki perasaan apa-apa pada Yumiko. Tapi sebaliknya aku juga merasakan kesedihan karena sahabat yang kusayangi menangis. Hati kecilku mulai bereaksi. Lebih baik Kak Satoru menerima Yumiko saja, biar Yumiko tetap bahagia dengan senyumannya terukir indah di wajahnya yang cantik.Walaupun hati ini pedih namun bila Yumiko bisa bahagia, tak apalah.
***
            Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 8 malam. Surat berwarna jingga sedang kugenggam. Haha mengatakan jika sekitar pukul 4 sore tadi surat itu tergeletak di dekat pagar. Tertulis namaku di sana, maka haha mengambilnya. Aku ragu untuk membaca isi surat itu karena takut hanya akan berisi olokan atau ejekan untukku. Sebab dulu pernah dua kali aku mendapatkan surat dan isinya berupa cacian untukku dan haha.
            Handphone-ku bergetar, ada pesan masuk dari Yumiko. Setelah membacanya, aku mengganti pakaian yang agak tebal dan merapikan rambutku lalu turun ke bawah untuk menemui haha.
            “Bu, Manami izin keluar ya. Yumiko mengajak Manami untuk melihat Festival Gozan no Okuribi,” bujukku pada haha yang sedang asyik menonton televisi.
            “Oke, tapi pulangnya jangan lewat pukul 12, Manami sayang. Iterasshai!
            Aku mengangguk lalu mencium pipi kanan haha.Konbanwa dan Oyasumi nasai (Selamat malam dan selamat tidur), Bu!”
            Dengan langkah ringan kutembus suasana malam di luar. Yumiko menyuruhku tidak usah membawa sepeda di pesannya tadi. Berjalan kaki lebih seru katanya. Kami janjian bertemu di restoran udon, Merogame Seimen, untuk makan udon bersama. Baru setelah itu kami akan berjalan keliling merasakan kemeriahan api yang dinyalakan penduduk Kyoto.
            Aku memasuki Merogame Seimen yang ramai. Mataku berkeliling mencari Yumiko. Kutemukan Yumiko yang duduk berhadapan dengan Kak Satoru. Aku bingung kenapa bisa ada Kak Satoru di sini. Apakah Yumiko mengajak Kak Satoru juga. Atau Kak Satoru tidak jadi menolak Yumiko dan kini mereka telah jadian. Ah, berbagai macam pertanyaan berloncatan di benakku.
            “Konbanwa (Selamat malam), Yumiko dan Kak Satoru!” sapaku pada mereka yang sedang terdiam.
            Kak Satoru terkejut dengan kehadiran diriku. Yumiko memandangku dalam-dalam lalu pergi meninggalkan kami. Aku hendak menyusul Yumiko, tapi jemari Kak Satoru menggenggam lenganku. Aku menoleh ke arah Kak Satoru dan mata kami bertatapan. Matanya yang indah seolah menenggelamkan energi tubuhku. Aku terduduk di kursi tempat Yumiko duduk tadi.
            “Manami sudah membaca suratku?” tanya Kak Satoru gugup sambil menatap mataku.
            “Surat apa, Kak?” jawabku ikutan gugup. Ah, ada apa ini. Apa yang sebenarnya terjadi. Kok Kak Satoru terlihat gugup begitu. Kenapa matanya tak lepas untuk menatapku terus-terusan.
            “Surat berwarna jingga. Sebenarnya ingin kuberikan langsung padamu di sekolah tadi, Manami. Tapi aku belum memiliki keberanian. Jadinya aku ke rumahmu saja dan menyelipkannya di dekat pagar,”
            Aku mendengarkan penjelasan Kak Satoru. Berarti surat itu yang ditemukan haha dan belum kubaca. Kini aku tertunduk, tidak tahan ditatap terus oleh mata bening dan teduh milik lelaki pujaanku.
            “Emm, suratnya sudah Manami terima. Tapi Manami belum membacanya, Kak. Gomen nasai (Maaf),”
            “Daijobu desu (Tidak apa-apa), Manami. Seharusnya aku yang minta maaf karena tanpa seizinmu aku menyayangimu. Aishiteru (Aku cinta kamu), Manami….”
            “Kak Satoru bilang apa sih? Salah tidak, Kak?” karena begitu gugupnya aku berkata sekenanya saja.
            Kak Satoru menggelengkan kepala. Tangannya mengangkat kepalaku dan membelai daguku sambil menggenggam jemariku dengan tangannya yang hangat. Badanku rasanya lemas. Sesaat kemudian dikecupnya jemariku dengan bibir merahnya. Aku merasakan kehangatan mengalir pada seluruh tubuhku. Aku memberanikan diri menatap wajah Kak Satoru untuk mencari kesungguhan dalam sikapnya.
            “Apakah ini mimpi, Kak?” tanyaku lirih, hampir menangis.
            “Ini nyata, Manami. Aku sungguh menyukaimu bahkan mencintaimu.” jawab Kak Satoru. Kulihat matanya memerah dan sedikit keluar bulir bening dari sana.
            Kini kami berdua tengah duduk di taman. Ditemani cahaya api dari beberapa gunung, kami berbicara panjang lebar dengan bahagia. Beberapa menit lalu, aku telah menerima cinta Kak Satoru di Merogame Seimen dan kini kami sudah menjadi sepasang kekasih. Surat jingga yang belum kubaca ternyata berisi tentang perasaan Kak Satoru padaku.
            “Sejak Manami masuk klub tenis, aku mulai menyukai Manami yang gigih berlatih dan tidak segan-segan membantu kohai membersihkan lapangan. Itulah saat itu aku pernah berusaha mendekati Manami dengan membantu membersihkan lapangan tenis. Tapi Manami malah menjauh karena Yumiko datang. Asal Manami tahu, aku mendekati Yumiko hanya untuk dekat pada Manami. Tapi ternyata Yumiko salah mengartikan,”
            Aku sangat bahagia mendengar penuturan dari Kak Satoru.
            “Yumiko bagaimana, Kak? Apa dia membenciku setelah tahu ini?”
            “Tenang saja, Sayangku. Yumiko sudah tahu semuanya jika aku mencintai Manami. Dia mau menerimanya dan tidak akan membenci Manami,”
            Aku tak bisa menahan tangis lagi. Kini airmataku tumpah. Kak Satoru memelukku. “Mulai malam ini panggil aku dengan Satoru saja, Manami!” bisiknya di dekat telingaku.
            “Iya, Sa… toru,” jawabku di sela-sela tangisku.
            Aku tak tahu harus bersyukur seperti apa untuk semua keindahan yang kudapatkan malam ini. Sungguh ini seperti mimpi.
            “Manami jangan lagi merasa kurang dengan apa yang ada pada diri Manami. Tubuh tinggi Manami, kulit dan wajah Manami atau mungkin keadaan keluarga Manami, itu semua bukan kekurangan. Itu jalan Tuhan agar Manami mensyukuri nikmat-Nya. Perbedaan Manami dari gadis yang lain telah membuat hatiku memilih Manami. Tetaplah seperti ini, Manami!”
            Aku mengangguk-anggukkan kepala di dalam dekapan hangat Satoru. Suatu hari nanti, aku akan menceritakan pada Satoru jika sejak awal diri ini memang telah memilih dia. Aku yakin, Satoru akan bahagia mendengarnya. Di musim yang baru, Aki (Musim gugur) yang kira-kira tinggal dua minggu lagi, aku akan melihat pemandangan warna warni daun yang berguguran bersama kekasihku, Satoru. Aku berharap, Yumiko juga akan mendapatkan kekasih sesuai pilihannya sebelum memasuki musim gugur. Dengan begitu, kebahagiaanku akan lengkap karena bisa merayakan keindahan di saat musim berganti bersama seorang kekasih dan seorang sahabat.


CINTA SEORANG NINA

           “Hebat! Berani sekali kamu Nina membantah omongan Pak Haris tadi,” decak Riri kagum pada Nina yang sedang asyik makan bakso di hadapannya.
            “Harus dong, Ri. Kita-kita kan tidak salah ya jadi harus berani. Memangnya guru harus selalu benar? Tidak kan?” balas Nina sambil mengunyah baksonya lahap.
            Sesaat mata Nina tertuju pada sesosok cowok tinggi yang sedang bermain basket di lapangan dekat kantin. Putra, cowok yang dikagumi dan dicintai Nina tanpa Nina tahu kenapa dia bisa jatuh cinta dengan cowok hitam manis itu. Dulu hubungannya dengan Putra bisa dikatakan amat akrab karena mereka sahabat sejak masih SMP dan sama-sama ikut ekstrakurikuler basket. Namun karena ada sesuatu hal yang membuat Putra kecewa dan marah, sampai sekarang Putra selalu menghindari Nina. Sebenarnya Nina sangat terluka, tapi apa boleh buat semua itu memang salah dirinya.
            “Eh Nin, kenapa bengong begitu? Entar kesambet jin baru tahu rasa, haha..” canda Riri yang membuyarkan lamunan Nina.
            “Tidak apa-apa kok,” cengir Nina yang kemudian menyeruput jus jeruknya.
            Riri adalah sahabat Nina sekaligus teman sebangku sejak masuk SMA dan sekarang mereka sudah kelas XII yang berarti lebih kurang sudah tiga tahun Nina dan Riri bersahabat. Akhir-akhir ini Riri terlihat akrab dan dekat dengan Putra, membuat Nina merasakan sedikit kecemburuan. Tapi, Nina mengikhlaskan kedekatan mereka karena Riri adalah sahabatnya.
***
            Sudah enam hari Nina tidak masuk sekolah dikarenakan dirinya harus beristirahat di rumah sesuai anjuran dokter. Saat Nina kelas 2 SMA, dia sempat mengalami pingsan saat bermain basket, setelah dibawa ke rumah sakit oleh mamanya, baru diketahui ternyata telah tumbuh tumor di otak Nina. Tumor itu belum bisa diangkat sampai sekarang karena belum ada dokter dan rumah sakit mana pun yang sanggup. Selama lebih kurang satu tahun Nina harus menjalani hidup dengan tumor di otaknya dan tak jarang Nina merasakan sakit yang teramat di kepalanya dan sesekali pingsan.
            Mama Nina bolak-balik dengan perasaan cemas di depan kamar Nina. Saat ini dokter sedang memeriksa Nina yang terbaring lemah di kamarnya setelah jatuh pingsan dua jam yang lalu.
            “Dok, bagaimana kondisi Nina sekarang? Nina masih bisa diselamatkan?” tanya mama Nina hampir menangis setelah dokter keluar dari kamar Nina.
            “Tumor di otak Nina sudah membesar. Saya sudah menghubungi salah satu rumah sakit di luar negeri dan tinggal menunggu jawabannya. Setelah itu kita siap untuk membawa Nina kesana dan melakukan operasi pengangkatan tumor. Saat ini yang terpenting, Ibu harus tetap menjaga dan mengawasi kesehatan Nina dan jangan sampai Nina banyak pikiran karena dapat menyebabkan otaknya tertekan sehingga tumor akan semakin mengganas,” jelas dokter.
            Sepulangnya dokter, mama Nina langsung menuju ke kamar dan membelai anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.
            “Ma, besok Nina sekolah ya. Nina ada ulangan matematika,”
            “Iya sayang, besok mama akan antar kamu ke sekolah asalkan kamu janji sepulang sekolah harus segera pulang ke rumah dan jangan main basket lagi!”
            Nina mengangguk dan tersenyum. Mamanya mencium kening Nina dan menyuruh Nina untuk segera tidur.
***
            Dengan senyuman manis, Nina menyapa mamanya yang lagi menyusun piring di meja makan. “Selamat pagi mamaku sayang,”
            “Pagi juga cantik,” balas mama sambil mencium kedua pipi Nina yang panas.
            Perasaan seorang ibu memang sangat peka dan ini dirasakan mama Nina saat mencium dan memeluk Nina barusan. Rasa khawatir terhadap seorang anak yang sudah dibesarkannya dengan kesendiriran karena papa Nina sudah meninggalkan mereka menghadap sang Ilahi saat Nina masih di sekolah dasar.
            “Sayang, apa kamu yakin untuk sekolah hari ini?” tanya mama sembari menuangkan air putih ke dalam gelas.
            “Iya mama, Nina sudah merasa baikan. Lima hari di rumah saja cukup membuat jenuh, Ma.” jawab Nina serius meyakinkan mamanya.
            Sesampainya di sekolah Nina mencari Riri, tak ditemukannya Riri di dalam kelas. Tak mungkin jam segini Riri belum datang, biasanya Riri datang lebih cepat dari dirinya. Tiba-tiba Nina teringat taman belakang sekolah, Riri dan Nina sering duduk-duduk di sana sambil belajar atau hanya sekedar mengobrol. Nina pun mengayunkan kakinya menuju taman belakang.
            Namun, saat telah ditemukannya Riri. Diurungkannya niat untuk menghampiri Riri karena Riri sedang duduk berdua bersama Putra. Mereka sedang mengobrol dan saling berpandangan, Putra memegang jemari Riri dan mengecupnya. Melihat itu, Nina merasakan cemburu dan tanpa sadar matanya mengeluarkan air bening. Tetapi dengan cepat perasaan itu dia buang jauh-jauh dan berusaha untuk tenang. Nina kembali ke dalam kelas dengan langkah yang cepat setengah berlari.
            “Nin, kamu sakit apa ? Lima hari kamu tak sekolah dan kata guru kita kami tidak perlu menjenguk kamu, padahal aku ingin sekali ke rumah dan melihat kamu,” kata Nina yang sudah kembali ke kelas.
            “Aku cuma demam, Ri. Tak perlu dijenguk kok. Sakitnya kan tak parah, hehee…” Nina menjawab dengan nada riang.
            Nina memang merahasiakan penyakitnya kepada siapa pun. Hanya wali kelasnya yang diberitahu mama Nina mengenai penyakit Nina.
            “Tapi aku merasa aneh, kok bisa kamu tidak masuk sekolah beberapa hari hampir tiap bulan loh, Nin?” tanya Riri lagi dengan penasaran.
            “Riri yang cantik, beneran deh aku tidak apa-apa. Percaya padaku ya,” mohon Nina sambil mengembungkan pipinya bercanda.
            “Iya, iya. Percaya deh. Oh ya, aku ada kejutan buat kamu. Aku jadian dengan Putra teman SMP kamu dulu itu Nin, tadi dia menyatakan cinta di taman belakang,” jelas Riri yang matanya memancarkan kebahagiaan.
            “Waw, selamat ya Riri. Aku ikut bahagia, kalian memang cocok. Putra cakep, pintar main basket lagi dan kamu cantik juga baik hati. Traktir aku ya,” canda Nina untuk menutupi rasa kagetnya.
            “Mudahlah itu, selesai ulangan nanti siang kita bertiga makan bakso kesukaanmu di kantin ya,” ujar Riri seraya mencuil hidung mancung Nina yang hanya bisa nyengir lucu.
            Nina tahu, Riri dan Putra memang telah dekat sejak Riri menjadi anggota cheerleader tim basket Putra. Nina juga anggota basket namun dia berhenti saat diketahui ada tumor di otaknya yang mengharuskan Nina untuk mengurangi kegiatan. Nina tak menyangka Putra dan Riri akan jadian. Tepatnya bukan tak menyangka tapi tak ingin. ‘Alangkah egoisnya diriku jika merasa cemburu dan tak ingin mereka bersatu, aku harus rela. Riri dan Putra sama-sama sahabatku. Jika mereka bahagia seharusnya aku pun bahagia’ batin Nina dalam hati.
***
            Nina dilanda kesepian, sahabat terdekatnya di sekolah, Riri, sudah tak lagi menemaninya seperti dulu, ke kantin, ke perpustakaan, pulang bareng dan sebagainya. Riri sekarang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Putra.
            “Ri, temani aku beli komik ya hari ini!” pinta Nina sedikit ragu karena melihat Riri membereskan meja dengan cepat.
            “Maaf Nina, aku mau menemani Putra memesan kaos tim basket untuk anak kelas X sekarang. Lain kali saja aku temani. Aku duluan ya,” kata Riri menyunggingkan senyum dan buru-buru keluar kelas.
            Wajah Nina tertunduk. Riri seolah melupakannya dan lebih mementingkan Putra yang sudah jadi pacarnya. Dengan menghela nafas panjang Riri pun meninggalkan kelas yang masih cukup ramai.
            Nina memilih-milih komik yang berderet rapi di toko buku langganannya. Dia teringat biasanya Riri juga ikut memilihkan komik yang menarik untuk mereka beli. Nina menangis dan cepat-cepat memilih satu komik kemudian membayarnya. Nina mengusap airmatanya, menunggu mamanya yang akan menjemput di depan toko buku. Tiba-tiba Nina merasakan kepalanya berat dan sakit yang tak tertahankan, belum sempat berpegangan di tiang dekat tempatnya berdiri, Nina tak sadarkan diri. Mamanya yang baru tiba, berteriak histeris melihat putrinya tergeletak tak berdaya di depan toko buku.
***
            Riri dan Putra baru tiba di rumah Nina yang sangat ramai. Bukan acara pesta atau syukuran. Namun…
            “Nina… Bangun! Maafkan aku, aku tak tahu kamu punya tumor di otak, aku tak tahu kalau kamu menderita. Akhir-akhir ini aku seolah melupakanmu dan aku tak menemanimu ke toko buku kemarin. Aku sangat menyesal dengan sikapku, Nina. Aku terlambat, sahabat seperti apa aku ini. Hiks…Hiks…” tangisan Riri memenuhi dan mengiringi suasana berkabung atas meninggalnya Nina.
            Mama Nina memeluk Riri yang histeris. Putra hanya terdiam, namun dia tak mampu menahan air yang terjatuh dari kedua pelupuk matanya. Setelah Riri agak tenang, mama Nina menyodorkan surat berwarna jingga kepada Putra.
            “Itu tante temukan di meja belajar Nina pagi tadi. Tante baca di amplopnya bertuliskan untuk Putra,” kata Mama Nina yang matanya sembab dengan wajah yang menyimpan berjuta kesedihan.
            “Terima kasih tante,” ujar Putra menerima surat tersebut dan membacanya.
            Dear Putra,
            Selamat ya karena kamu dan Riri sudah bersatu. Kalian memang serasi dan cocok sekali. Aku turut bahagia untuk kalian berdua. Kamu sudah menemukan orang yag tepat untuk kamu cintai, Putra.
            Aku menulis surat ini juga untuk memohon maaf sekali lagi atas kelancanganku setahun yang lalu. Kamu sangat marah saat aku menyatakan kalau aku menyayangimu lebih dari sayang seorang sahabat. Setelah itu kita tak lagi akrab dan sahabatan, bahkan kamu tak mau menegurku. Aku sangat menyesal Putra, menyesal atas sikapku dan perasaanku. Semoga sekarang kamu sudah memaafkan aku.
            Jaga Riri baik-baik ya, jangan kecewakan dia. Sekali lagi ku katakana aku bahagia melihat kalian bersama walau awalnya aku merasakan cemburu dan tak rela. Tapi, aku cukup sadar rasa cemburuku dan tak kerelaanku tidak ada gunanya. Apalagi tanpa kamu dan Riri ketahui, sebenarnya aku adalah gadis yang penyakitan. Ada tumor yang sudah satu tahun bersarang di otakku. Itulah sebabnya kenapa aku sering tidak masuk sekolah dan keluar dari tim basket. Maaf ya aku merahasiakan ini dari kalian.
            “Doakan aku dan ikut ke pemakamanku jika benar aku akan meninggalkan dunia ini ya Putra, aku ingin sekali saja kau memperhatikanku untuk yang terakhir kalinya. Terima kasih ^_^
                                                                                                                               
                                                                                                                                       Sahabatmu, Nina

            Putra melipat surat itu dan matanya semakin dibanjiri air bening. Riri yang melihat Putra menangis menjadi heran. Keheranannya terjawab tatkala dia selesai membaca surat yang dia ambil dari tangan Putra. Riri pun menangis lagi dalam pelukan Putra.

TAMAT





KARENA ADA CINTA

              Di sebuah rumah mewah, terlihat seorang gadis berusia 16 tahun sedang menyapu ruangan tamu yang sangat besar. Gadis itu bernama Dina, siswi kelas 2 SMA. Meski usianya yang masih belia, dia harus bekerja untuk membantu meringankan beban bibinya yang telah membesarkan dirinya. Orang tua Dina meninggal dunia karena kecelakaan waktu Dina masih berumur 4 tahun.
            Dengan tekun, setiap pulang sekolah Dina langsung menuju rumah mewah tempat dia bekerja sebagai pembantu. Rumah itu adalah rumah Dira, teman sekelasnya. Sebenarnya Dina telah menyukai Dira sejak mereka kelas 1. Oleh karena status sosial yang berbeda dan Dira sudah memiliki pacar, maka Dina memilih menyimpan rasa itu dalam hati. Apalagi sikap Dira ke Dina kurang ramah, membuat Dina agak takut mendekati Dira, yang sekarang menjadi anak majikannya.
            “Hei, setrika baju aku dengan rapi dan cepat! Aku mau pergi nih,” perintah Dira pada Dina yang sedang mencuci piring.
            “Iya, Dira mau kemana ya? Sebaiknya istirahat saja dulu kan baru pulang sekolah,” ujar Dina pelan.            “Jangan banyak omong,” bentak Dira.
            Dina hanya terdiam dan maklum akan sifat Dira karena  sudah sering Dira membentak dirinya seperti itu.
***
            “Dina, bawa baju olahraga gak?” tanya Mita pacar Dira.
            “Iya Mita, aku bawa baju olahraga. Kenapa ya?” jawab Dina tersenyum.
            “Berikan baju kamu ke Mita! Jangan sampai Mita dihukum Bu Amel karena gak bawa baju olahraga,” kata Dira yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.
            Dina memberikan bajunya ke Mita. Tak berapa lama, Mita dan Dira keluar kelas menuju lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Dina hanya termenung di dalam kelas. Tentu ia tak akan diizinkan ikut pelajaran olahraga oleh Bu Amel jika tidak memakai baju olahraga.
            Dina pernah dihukum karena tidak memakai topi saat upacara bendera. Bukan karena tidak membawa topi, tapi topi itu dia berikan pada Dira yang sering ketinggalan atau lebih tepatnya malas membawa topi untuk perlengkapan upacara bendera. Pernah juga Dina dimarahi gurunya karena tidak membuat PR. Bukan karena Dina anak pemalas yang tidak membuat PR, tapi kertas PR nya dia berikan pada Dira. Dina memang anak baik dan dia selalu bersikap baik pada Dira, hanya saja Dira selalu memandang rendah Dina yang ia anggap hanyalah pembantu bukan sebagai seorang teman.
            Tak hanya sampai disitu, karena Dina menyukai dan menyayangi Dira, sampai-sampai Dina rela menolong Dira saat Dira hampir kecelakaan. Alhasil, kaki Dina lah yang terkena mobil dan sampai saat ini kaki Dina sedikit pincang. Dira tak sadar dan tak mau tahu tentang kebaikan Dina pada dirinya selama ini. Dira membenci Dina karena Dira mengetahui perasaan Dina pada dirinya dari Mita.
            “Dina! Kenapa baju kesayanganku bisa bercak-bercak merah begini?” teriak Dira marah.
            “Maafkan aku Dira, baju kamu terendam dengan baju lain yang warnanya luntur,” kata Dina lirih ketakutan.
            Dira mendorong tubuh Dina dan menghardiknya, “Dasar pembantu gak berguna!”
            Dina hanya bisa menangis, menyesali kecerobohannya yang sudah memancing amarah Dira. Beberapa menit setelah tangisannya reda, Dina melangkah tertatih menuju ruang tengah untuk menyapu. Akan tetapi diurungkannya niat untuk menyapu karena dia melihat Dira bersama Mita sedang berdua dan mesra. Dira mencium kening Mita, membuat Dina merasakan kecemburuan bercampur kaget sampai-sampai vas bunga di atas lemari dekat tempat dia berdiri tersenggol dan terjatuh. Diambilnya dan diletakkannya kembali dengan cepat kemudian berlalu ke belakang.
            Belum hilang bayangan  akan apa yang dilihatnya barusan, tiba-tiba Mita telah berada di belakang Dina.
            “Cemburu ya? Makanya nyadar diri donk! Pembantu menyukai majikan, gak tahu diri banget sih elo,” hina Mita dengan wajah sinisnya.
            Dina hanya tertunduk dan terdiam.
***
            Di hari Minggu pagi yang cerah, Dina mengetuk rumah Dira untuk bekerja. Namun, rumah itu ternyata tak terkunci. Dina masuk perlahan dan ditemukannya Dira sedang menangis meraung-raung di dekat meja telepon.
            “Mami… Jangan tinggalkan Dira! Dira ingin ikut Mami,” tangis Dira seraya memukul-mukul lantai dengan tangannya.
            Mami Dira yang berobat keluar negeri seminggu yang lalu ternyata meninggal dunia menyusul papi Dira yang telah pergi terlebih dahulu. Dina merasakan kepedihan yang dirasakan Dira sekarang karena dia telah merasakan bagaimana kehilangan kedua orang tua sekaligus. Dina hanya bisa terpaku tanpa tahu harus berbuat apa.
            Beberapa hari Dira hanya berdiam diri di rumah, dia tidak mau sekolah dan tidak mau makan. Hal ini membuat kondisinya menjadi buruk hingga jatuh sakit. Dina selalu menemani Dira dan menyemangatinya secara perlahan hingga Dira bisa sedikit mengobati rasa perih ditinggal maminya. Dira juga mulai bersekolah kembali seperti biasa.
            “Say, mana mobilmu?” tanya Mita pada Dira sesampainya mereka di parkiran sekolah.
            “Emm, mobil disita tanteku, aku disuruh naik angkot ke sekolah mulai sekarang,” kata Dira ragu-ragu takut Mita akan kecewa.
            “Apa? Naik angkot? Gak banget deh, aku mau pulang bareng Rio aja,” teriak Mita terkejut kemudian meninggalkan Dira yang tertunduk sedih.
            Tiba-tiba sebuah motor melaju kencang ke arah Mita yang sedang berjalan agak ke tengah, melihat itu Dira berlari menghampiri Mita dan dengan cepat mendorong Mita ke pinggir. Mita berhasil diselamatkan akan tetapi Dira yang tertabrak motor itu hingga tak sadarkan diri. Kepala Dira terbentur bebatuan, mata dan beberapa bagian tubuh Dira mengeluarkan banyak darah.
            “Dira… Kamu kenapa? Apa yang terjadi?” Dina meneriakkan nama Dira sambil menangis melihat kondisi orang yang disayanginya bersimbah darah.
            Melihat kerumunan banyak orang, Mita segera berlari dan masuk ke dalam taksi, dia takut jika disalahkan atas kecelakaan tersebut.
***
            Setelah dua minggu, Dira baru bisa pulang dari rumah sakit. Luka-lukaya sudah sembuh namun ia harus mengalami kebutaan akibat matanya terluka saat kecelakaan itu. Tidak sampai disitu, penderitaan Dira makin bertambah saat dirinya diusir dari rumahnya sendiri oleh tantenya yang jahat. Adik kandung maminya itu ingin menguasai kekayaan yang seharusnya jadi milik Dira. Apalah daya yang bisa dilakukan seorang Dira, dia tak bisa menang melawan tantenya. Dan kini pun, Dina sudah tak lagi bekerja di rumah Dira karena dipecat sang tante yang tak memiliki rasa kasih sayang pada keponakan sendiri.
            Atas permintaan Dina maka sekarang Dira tinggal di rumah bibi Dina. Dira tak lagi masuk sekolah karena dengan kondisinya yang buta tidak memungkinkan untuk belajar secara normal seperti dulu.
            “Dina, tolong temui Mita hari ini dan bilang padanya kalau aku rindu padanya dan ingin bertemu,” mohon Dira pada Dina yang telah siap untuk berangkat sekolah.
            “Iya Dira, akan aku sampaikan. Aku pergi sekolah dulu ya,” ujar Dina yang kemudian menyalami tangan bibinya untuk berpamitan.
“Hati-hati di jalan ya sayang!” pesan bibi pada Dina.
Sebelum keluar pagar, Dina menoleh ke belakang dan memandangi sosok Dira yang sangat berbeda dari Dira yang dulu. Sosok yang memancarkan penderitaan mendalam. Dina sangat ingin menolong Dira, tapi dia belum tahu bagaimana caranya.
“Dira itu buta dan sudah miskin sekarang. Tentu dia tak akan bisa buatku bahagia lagi. Kalau elo mau, ambil aja. Bukannya elo suka sama Dira kan?” cerca Mita setelah Dina menjelaskan dan menyampaikan pesan Dira tadi.
“Kamu tega banget, Mit. Dira buta itu karena menolongmu. Aku mohon sekali saja kamu temui Dira, kasihan dia,” ujar Dina menahan air matanya yang ingin keluar.
Bukannya memperhatikan perkataan Dina, Mita malah berlalu menghampiri Rio yang sekarang jadi pacarnya, pengganti Dira.
***
            Hari ini hari yang ditunggu-tunggu Dira, perban matanya akan dibuka. Bibi Dina yang mendampingi Dira ikut merasa tegang menunggu hasil operasi mata Dira.
            “Mataku bisa melihat lagi, Bi. Aku bisa melihat lagi, aku bisa melihat lagi!” teriak Dira bahagia.
            Bibi memeluk Dira sambil menangis terharu. Operasi itu berhasil dengan sukses. Tidak sia-sia Dira dan bibi Dina berangkat menuju rumah sakit di Singapura untuk melakukan operasi.
            “Oh ya, Dina gak ikut ke sini ya, Bi?” tanya Dira tiba-tiba yang menyadari tidak adanya kehadiran Dina bersama mereka.
            Bibi mengangguk dan menjawab, “Dina gak ikut karena dia sekolah, Dira. Kita segera pulang sore ini saja ya, kasihan Dina sendirian.”
***
            Bibi melihat Dina sedang tidur di kamar, yang mengherankan karena wajah Dina terlihat pucat dan badannya lemah. Seakan ada  pohon besar yang menimpanya, bibi Dina menangis dan merasakan kesedihan yang tak terlukiskan membaca selembar kertas tentang pendonoran ginjal dan nama pendonor adalah Dina Prameswara Putri. Apa yang telah dilakukan Dina ini sama sekali tak diketahui oleh dirinya.
            “Sayang, coba jelaskan pada bibi apa arti dari semua ini!” kata bibi pada Dina yang sudah terjaga dari tidurnya.
            “Maafkan Dina, Bi. Dina gak cerita ke bibi terlebih dahulu. Dina mendonorkan ginjal kanan Dina pada seseorang dan dia menggantinya dengan uang yang Dina berikan pada bibi untuk operasi mata Dira. Dina bukan meminjam uang itu seperti yang Dina bilang pada bibi sebelumnya, maafkan Dina telah berbohong,”
            Bibi Dina langsung memeluk keponakannya itu. Dia tak menyangka Dina memiliki hati seputih kapas, rela berkorban apa pun demi Dira yang disayanginya. Tiba-tiba pintu kamar Dina terbuka dan muncul Dira yang langsung memeluk Dina. Dina terkejut dan merasakan badannya gemetar dalam pelukan Dira.
            “Aku tak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa padamu, Din. Kamu terlalu baik padaku sampai-sampai merelakan ginjalmu untuk membiayai operasi mataku. Selama ini aku telah salah menilaimu. Maafkan aku Dina, kesalahanku sudah terlalu banyak padamu. Harusnya dari dulu aku sadar bahwa kamulah wanita yang benar-benar mencintaiku. Sekarang aku telah merasakan jika aku pun bisa mencintaimu, Dina.” kata Dira tanpa melepas pelukannya.
            Dina tersenyum. Dia merasakan rasa tenang dan nyaman saat ini. “Andai saja bisa, akan ku hentikan waktu saat ini agar aku selalu berada dalam pelukanmu, Dira,” ujarnya dalam hati.

TAMAT



Belajar Mencintai Cinta Part 1


Aku lebih memilih menjaga cinta ini. Lebih memilih mencintai daripada dicintai. Dicintai memang membuatku merasa senang, tapi mencintai juga buatku senang. Hanya bedanya saat mencintai aku telah belajar apa itu arti dari ikhlas, karena mencintai mengajarkan sebuah keikhlasan. Akan ku jaga cinta ini sampai kapanpun, sampai aku mampu untuk bertahan. Walau terkadang lelah ku rasa dan perih ku dapati, aku tak menghiraukan itu. Cinta untuk dia ibarat air yang menyejukkan penghilang lelahku. Cinta untuk dia ibarat kulit baja yang melapisi diriku sebagai pelindung rasa perihku.
Aku merasa telah menjadi dewasa sekarang atas cinta yang kumiliki. Tak seperti dulu saat aku masih asing dengan arti mencintai dan hanya mengenal arti dicintai. Setiap kali aku menerima cinta, aku menggenggam cinta yang diberikan untukku. Namun, aku sendiri tak tahu untuk apa cinta itu ku terima dan ku genggam. Hampa rasanya. Mengalir begitu saja seperti air dan hanya mengikuti kemana arus akan membawanya. Lama-lama aku bosan, Aku sudahi semuanya.
Kini saat aku menemukannya. Saat aku merasakannya. Perasaan yang berbeda. Menggugah pikiran dan hatiku. Membuatku terbang melayang melihat keindahan. Mengajarkanku mengepakkan sayap dengan bebas. Membawaku menari-nari di angkasa luas. Menarikku singgah di Andromeda. Mengulurkan tangan. Senyuman merekah, Aku jatuh cinta. Aku merasakan cinta. Aku bisa mencintai. Sekali lagi, aku bisa mencintai.a
Kepada dia yang sama sekali tak terduga. Bukan kehendakku, bukan pilihanku. Tapi, hatiku memilih dia. Dia yang menurutku bukan orang yang hendak ku cintai selama ini. Apalah dayaku, ini sudah tak bisa diubah. Melintas dengan sejenak, namun tak berlalu. Aku mencoba melupakan. Sudah ku coba tapi tetap tak bisa dilupakan. Aku mencoba pura-pura tak tahu, Sudah ku coba tapi tetap tak bisa pura-pura. Aku akan mencoba untuk menjalani perasaan ini. Sejauh mana perasaanku akan membawaku. Aku tak pernah tahu itu.

Bersambung……….



BAHAGIA ITU SEDERHANA

           Perasaan hangat saat merasakan rasa istimewa, melambungkan angan-anganku sejauh-jauhnya hingga tak terjamah lagi oleh mata manusia manapun. Keberanian menyeruak dari hati yang terdalam menepiskan rasa ragu atas perasaan yang tengah ku rasakan kini. Sejenak aku mencoba singgah dan saat itu juga aku tak mau pergi lagi. Masih tetap singgah walau mungkin tak terlihat. Hanya bisa menepi dan bersembunyi di balik dinding yang bernamakan kerahasiaan. Sungguh aku tahu hal ini tak mudah, namun aku sudah terlanjur terbawa arus atas sosoknya yang indah di pandanganku. Aku merasakan kebahagiaan. Bahagia yang sederhana ketika merasakan rasa istimewa.
            Tetapi terkadang ada perih yang aku rasakan. Terkadang juga ada sedikit kebahagiaan yang aku dapatkan. Tinggal bagaimana aku bisa memaknai dan sampai sejauh mana aku sanggup bertahan akan perasaan tak terbalas ini. Aku hanya manusia yang memiliki hati dan kebetulan merasakan rasa istimewa pada manusia yang juga memiliki hati. Bedanya denganku, manusia yang bernama Diraz tak memiliki rasa istimewa pada manusia yang bernama Mikha. Kini aku terdampar di tengah lautan hatinya. Aku tenggelam dalam lembah perasaanku. Tak akan ada yang bisa membawaku ke daratan karena besarnya ombak cinta yang tengah menggulungku. Tapi sungguh aku merasakan bahagia. Bahagia itu sederhana ketika kita jatuh cinta.
***
            “Aduh, sakit!” keluhku meringis saat kakiku bersenggolan dengan kursi di depanku.
            Perlahan aku duduk dan memulai mengurut-urut kakiku yang terkena benturan kursi tadi. Gara-gara terpana melihat Diraz, kakiku merasakan nikmatnya bersentuhan dengan kursi. Pedih terasa di bagian kakiku, tapi aku merasa bahagia, masih bisa melihat Diraz hari ini.
            “Nih kartu kuliahmu, Kha. Eh, kenapa kakimu diurut-urut seperti itu?” tanya Sonya mengamati tanganku yang menari-nari di atas kakiku.
            Aku tersenyum menahan sakit, “Terbentur di kursi itu, Son.” kataku sambil menunjuk kursi di depanku.
            “Kok bisa? Ada-ada saja kamu Mikha. Aku bantu mengurut kakimu ya.”
            Beberapa menit kemudian setelah aku merasa kaki ini sudah cukup baikan, kami melangkah keluar ruangan dan menuju ke kantin untuk mengisi perut yang berontak meminta asupan energi. Lagi-lagi, sosok Diraz lewat di hadapanku. Kali ini aku berusaha untuk tidak tersandung kursi atau hal lain yang dapat menimbulkan kerugian pada anggota tubuhku. Sedikit gugup aku mencoba tenang membawa mangkuk yang berisi bakso favoritku ke salah satu meja yang telah ditempati Sonya. Begitu tampak kebencian di wajah Diraz saat dia tak sengaja menoleh ke arahku tadi. Aku tak tahu harus bagaimana, mau minta maaf tapi aku takut malah akan membuatnya marah
***
            Hal rutin yang aku lakukan setiap pukul delapan malam adalah online lalu log in ke akun facebook. Kemudian membuka profil facebook Diraz. Hanya dengan melihat-lihatnya aku merasakan bahagia. Walau hampir setiap hari ketemu dan melihat Diraz karena kami selalu satu ruangan saat kuliah, aku tak pernah bosan melihat-lihat facebooknya sekedar ingin tahu keadaannya atau apa saja yang dia lakukan seharian ini dan tentu saja tak lupa melihat komentar-komentar dari setiap status yang dia tulis di sana. Sebenarnya sampai sekarang aku masih takut-takut untuk melihat-lihat profil facebook Diraz, takut jika ketahuan oleh orang lain. Maka dari itu aku hanya membuka profilnya jika sudah berada di rumah  Sekarang aku tidak lagi menjadi teman akrabnya juga teman di akun facebook Diraz sejak kejadian dua minggu yang lalu. Diraz yang telah berhasil mencuri hatiku, dia juga yang berhasil membuatku merasakan malu yang cukup besar pada kejadian dua minggu yang lalu.
            Aku termenung membaca komentar dari statusnya 15 menit yang lalu.
            ‘Maafkan aku, aku lakukan ini demi kebaikanmu’
Komentar:
Clarabela Assyifa : ‘Dimaafkan yank, :D’
Diraz Pranata : ‘Hahaa Bela.’
Clarabela Assyifa: ‘Kenapa ketawa yank?’
            Bela memanggil Diraz “yank”? Apa benar gosip yang ku dengar beberapa hari yang lalu kalau Bela menyatakan cinta ke Diraz dan Diraz menerimanya. Tapi kenapa masih berstatus lajang, belum ada perubahan status hubungan di facebooknya Diraz jika mereka telah resmi jadian. Setetes air bening keluar dari mataku. Tak sengaja dan tak ku ingini. Aku menghapus air bening itu dari pelupuk mataku dan tersenyum. Mikha, kamu sudah terlanjur terdampar dan tenggelam di hatinya. Saat ini hanya ada satu yang bisa dilakukan. Ikhlas. Dengan begitu kamu akan merasa bahagia tanpa harus memiliki hati dan cintanya. Aku mengatakan kata-kata itu dalam hati guna menghibur diriku sendiri. Di depan laptopku yang masih menyala, aku melamun dan mengenang kembali kejadian dua minggu yang lalu. Kejadian yang tak bisa ku lupakan.
             “Teman-teman, lihat nih. Si Mikha lagi membuka profil facebook Diraz loh!” teriak Bela sambil merebut laptopku.
            Aku cemas dan berusaha merebut kembali laptop itu dari tangan Bela. Tapi, kerumunan teman-teman yang penasaran membuat aku kesulitan. Aku hanya terdiam. Tak berapa lama kemudian Diraz datang dan langsung diseret Bela untuk melihat laptopku.
            “Mikha benar-benar menyukaimu Diraz. Coba cek saja di folder documentnya, foto-fotomu yang di facebook hampir semuanya didownload. Dasar cewek tak tahu malu,” caci Bela sambil memandang sinis padaku yang hanya bisa tertunduk pasrah.
            Diraz melihat-lihat isi document di laptopku, wajahnya berubah ketika menemukan foto-fotonya ada di laptopku. Pandangannya beralih memperhatikan diriku yang berdiri kaku.
            Tiba-tiba, gubraakk…!
            Diraz memukul meja dengan keras hingga laptopku bergeser dan hampir terjatuh. “Hapus semua foto-fotoku! Jangan ganggu aku, aku tak sudi disukai oleh cewek sepertimu!” bentak Diraz emosi dan seketika melangkahkan kakinya menjauh. Bela tersenyum mengejek padaku kemudian menyusul Diraz yang sudah tak terlihat lagi.
            Begitu ku sesali apa yang telah terjadi padaku waktu itu. Sungguh rasa malu sangat aku rasakan saat itu hingga sampai sekarang aku masih dihantui rasa malu dan bersalah. Aku tak berani lagi menatap Diraz secara langsung ataupun bertemu dia. Memang benar apa yang dikatakan Bela jika aku tak pantas untuk menyukai apalagi mencintai Diraz, cowok yang memiliki banyak kelebihan dan idola para gadis di kampusku. Jadi aku harus melupakan perasaanku pada Diraz. Namun, Sonya bilang padaku kalau rasa suka atau cinta itu adalah hak masing-masing manusia. Jadi sah-sah saja dan tak ada yang bisa melarang. Aku lebih memilih apa yang dikatakan Sonya karena memang aku tak sanggup membunuh perasaan ini. Aku akan berusaha agar perasaan ini terjaga dengan baik sehingga tak ada lagi seorang pun yang tahu.
***
            Aku adalah makhluk biasa yang mempunyai rasa cinta pada seseorang. Sebenarnya memang tak salah jika kita mencintai seseorang. Tapi, kenapa Diraz sampai begitu benci padaku yang mencintainya. Sampai saat ini aku tak menemukan jawaban itu. Namun aku tak akan ambil pusing. Sudah cukup bagiku hanya merasakan cinta ini, mengagumi dari jauh dan yang terpenting Diraz bahagia dan baik-baik saja maka aku pun turut bahagia. Cinta tak bisa dipaksakan, cinta tak harus memiliki dan cinta tetaplah cinta yang hanya bisa dinilai oleh hati.
            “Mikha, kamu baik-baik saja, kan? Dari tadi aku perhatikan dirimu melamun terus. Ada masalah sahabatku? Cerita saja!” ujar Sonya dengan suara pelan karena kami sedang kuliah dan dosen lagi memberikan penjelasan di depan dengan suara lantang.
            Aku hanya menggeleng lalu tersenyum dan mengalihkan pandanganku ke sebelah kanan agak ke depan. Aku menatap sosok Diraz dari belakang.
            “Ooh, aku tahu. Tentang Diraz ya? hehe, cerita saja sehabis kuliah nanti, Kha!” kata Sonya sambil mencubit gemas pipiku.
            Hanya meringis yang bisa ku lakukan akibat cubitan Sonya. Sudah menjadi kebiasaannya mencubiti pipiku yang katanya buat gemas. Biasanya aku akan membalas mencubit pipinya juga, tapi aku ingat kondisi jika saat ini kami sedang mengikuti perkuliahan. Satu jam kemudian sang dosen telah meninggalkan ruangan. Aku mengambil botol minum dari dalam tasku dan meneguknya sedikit demi sedikit.
            “Ayo donk cerita, cerita, cerita!” Sonya membalik kursi dan menghadapku. Wajahnya yang imut terlihat makin imut jika matanya memancarkan rasa penasaran.
            Setelah Diraz dan teman-teman yang lain sudah pada keluar, aku menceritakan semua yang aku rasakan, aku yang tak bisa menghilangkan rasa istimewaku pada Diraz, aku yang bingung kenapa Diraz terlihat membenciku dan sangat terganggu jika aku mempunyai rasa suka padanya.
            “Begitulah, Son. Aku hanya berharap saat ini Diraz, Bela dan teman-teman yang lain menyangka kalau aku sudah benar-benar melupakan Diraz dan tak lagi menyukainya,”
            “Aku doakan itu Mikha. Kagum deh pada dirimu yang sanggup menghadapi perasaan seperti ini. Menyimpannya dan menahannya hingga sekarang. Aku akan bantu mencari tahu kenapa Diraz bersikap seperti itu padamu. Sahabatku ini kan gadis yang cantik, lucu, baik hati dan pintar pula. Bila dibandingkan dengan si Bela yang jahat itu, kamu lebih segalanya dari dia. Yakinlah kalau Diraz lebih memilihmu daripada Bela. Sebelum kejadian yang gara-gara Bela itu, Diraz kan baik-baik saja padamu seperti biasanya, duduk berdekatan dengan kita, masih ngobrol dan dia masih sering jahilin kamu. Mungkin ada sesuatu hal yang membuat Diraz berubah seolah membencimu terus-terusan Mikha,”
            Pikiranku menerawang dan mencerna perkataan Sonya. Benar juga, sejak Diraz tahu kalau aku menyukainya itulah yang membuat sikapnya berubah dan membenciku. Sangat aku sesali tindakan Bela yang waktu itu membuatku malu dihadapan Diraz dan teman-teman kuliahku. Seandainya itu tak terjadi tentu sekarang aku masih bisa berteman dan dekat dengan Diraz. Aku merasa bangga bisa  dekat dengan Diraz dibanding para cewek-cewek lainnya. Bela yang sudah lama menyukai Diraz saja tidak terlalu dekat. Malah Diraz pernah bilang jika dia agak risih dengan Bela yang agresif.
            “Hanya dengan kamu aku merasa nyaman Mikha,” kata Diraz kira-kira sebulan yang lalu saat kami masih sebagai teman dekat.
            Aku tersenyum mengingat kenangan yang kurang lebih sudah dua tahun kami lalui bersama, yang awalnya kenal karena masuk organisasi yang sama hingga menjalin pertemanan yang sangat akrab. Pada akhirnya aku merasakan jatuh cinta padanya sekitar enam bulan yang lalu. Rasa cinta itu hanya aku simpan dan berusaha tak ada yang tahu sekalipun pada Sonya, sahabatku dari SMA. Namun, tak ku sangka akan ketahuan oleh Bela yang tak suka padaku karena aku dekat dengan Diraz. Terjadilah hal yang aku takutkan, kenyataan bahwa aku telah jauh dari Diraz, seseorang yang aku cintai.
            Selalu berusaha tak menangisi kenyataan ini. Toh, aku tetap merasakan bahagia. Cinta yang suci tanpa syarat akan selalu menciptakan kebahagiaan. Walau telah jauh dariku, aku masih bisa memandang sosoknya diam-diam, itu suatu kebahagiaan. Walau tak berkomunikasi dengannya lagi, aku masih tahu kegiatannya dari membaca di kronologi facebooknya, itu juga suatu kebahagiaan. Walau dia tak tersenyum lagi untukku tapi aku masih bisa melihat senyumnya saat dia tersenyum pada Sonya, itu pun suatu kebahagiaan. Walau seakan sikapnya padaku menunjukkan kebencian, aku masih bahagia karena itu berarti dia masih menganggapku ada. Bahagia itu sederhana ketika aku merasakan cinta pada seseorang. Cinta suci tanpa syarat dan tanpa mengharapkan apa-apa dari rasa cinta itu sendiri.
***
            Aku mencari-cari Sonya karena aku tak melihat dia ada di ruang kuliah padahal tasnya sudah ada. Ku langkahkan kaki menuju halaman belakang kampus yang biasa jadi tempat bermain futsal. Ternyata Sonya ada di sana lagi duduk berdua dengan Diraz. Aku melangkah dengan diam-diam mendekati arah belakang mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka.
 “Jadi begitulah sebabnya Sonya kenapa aku marah sekali saat tahu Mikha benar-benar jatuh cinta padaku juga. Aku telah berusaha membunuh rasa cintaku padanya setelah tahu kenyataan pahit itu. Aku tak menyangka ternyata Mikha juga cinta padaku. Aku ingin marah, aku tak ingin takdir ini!” kata Diraz dengan terbata-terbata menjelaskan pada Sonya sambil menyeka matanya yang berair.
            “Aku mengerti Diraz kenapa kamu bertindak seolah membenci Mikha, agar Mikha juga membencimu dan melupakanmu. Tapi, caramu tak berhasil karena Mikha tetap menyayangimu. Menurutku sebaiknya kamu bilang yang sebenarnya jika kamu terkena HIV, aku yakin Mikha mengerti dan tak akan memandang negatif terhadap dirimu,”
            Air mataku jatuh perlahan, aku menangis mengetahui hal yang sebenarnya kenapa Diraz berubah sikap padaku. Ketahuilah Diraz, bagaimanapun kondisimu, aku akan tetap cinta kamu. Cukup hanya dengan mencintaimu aku bisa bahagia. Kapan pun dan bagaimana pun keadaannya, cinta yang tulus dan suci tanpa syarat akan mudah membawa kebahagiaan karena bahagia itu sederhana ketika merasakan rasa istimewa yang disebut cinta.

SELESAI



JASON, AKU MENCINTAIMU
            Aku memandangi sesosok cowok tinggi salah satu personil Jasuka Band yang sedang serius memukulkan dua buah stik pada drum besar di hadapannya. Dia Jason, cowok yang telah 3 bulan ini membuat diriku selalu penuh semangat untuk datang ke kampus. Jason lelaki pertama yang aku cintai. Namun, hubungan kami hanya sebatas teman. Mungkin Jason tak tahu tentang perasaanku ini.
            Jasuka Band beranggotakan anak-anak jurusan akuntansi semua yang terdiri dari enam personil. Ando sebagai vocalis, Imam dan Randy sebagai gitaris, Dira memegang bass, Gilang memegang keyboard, dan terakhir Jason sebagai drummer. Aku sendiri sebagai manajer band mereka.
            “Kenapa akhir-akhir ini kamu tidak jalan dengan pacarmu lagi, Shil?” tanya Ando.
            “Maaf ya gara-gara sering mengurusi kami, kamu jadi tak punya waktu untuk pacarmu,hehe…” goda Gilang padaku.
            “Kalian tidak tahu ya, aku sudah putus dengan Harry satu bulan yang lalu.” kataku pada mereka yang langsung memasang wajah bingung.
            “Aku lagi malas untuk pacaran sekarang ini. Lebih enak jadi manajer kalian saja, bisa jalan-jalan dengan bebas dan bertemu banyak teman baru. Kan siapa tahu ntar ketemu sama cowok yang cakep dan bisa jadi jodohku, hahaa…”
            “Maunya tuh, tapi lebih baik kamu tidak ada cowok, Shila. Jadinya kan kita-kita bebas mengajak kamu kemana saja.” ujar Imam sambil memainkan gitarnya.
            Aku melirik Jason yang dari tadi hanya diam dan senyum saja mendengar ocehan kami. Aku beranjak berdiri dan menuju ke kamarku di atas, meninggalkan mereka di ruang tamu. Di depan kaca aku mematut diri. Teringat kisah cintaku dahulu bersama beberapa cowok yang tak pernah aku cintai. Hubungan kami hanya ku jalani datar saja. Aku pacaran dan menerima mereka karena aku hanya suka dan tak pernah sekalipun mencintai mereka. Ketika aku menjadi dekat dengan rombongan Gilang, aku menjadi mengenal Jason dan merasakan hal yang berbeda ketika melihat dia. Aku jatuh cinta setelah beberapa minggu aku mengenalnya. Saat menemukan cinta yang tak pernah aku rasakan sebelumnya itulah yang membuat aku sadar dan memutuskan Harry, cowokku yang terakhir. Sebenarnya Harry tak terima namun setelah aku jelaskan perasaanku yang sebenarnya ia akhirnya mau menjauh.
Aku kembali ke ruang tamu. Ternyata mamaku telah memberikan mereka cemilan berupa pisang goreng. Langsung saja tanganku meraih pisang goreng di atas meja. Aku terkejut karena disaat bersamaan Jason juga ingin mengambil pisang goreng, tangan kami pun bersentuhan. Dia memandangiku, segera aku tarik tanganku.
***
            Siang seperti ini sangat terasa gerah, ingin sekali rasanya langsung pulang saja ke rumah. Sayangnya aku harus mengikuti satu mata kuliah lagi. Duduk manis di kelas yang full AC adalah pilihan terbaik karena bisa mendinginkan. Aku ayunkan langkahku menuju kelas dengan semangat.
            “Hey…Melamun saja. Ini aku bawakan jus mangga buatmu, Shila.” kata Tiara mengejutkanku.
            “Terimakasih, Tiara.” Aku tersenyum sambil mengambil botol yang berisi jus mangga.
            Tiara adalah teman satu fakultas namun beda jurusan denganku. Selain itu  Tiara juga tetanggaku. Walaupun tetangga kami hampir tak pernah pergi dan pulang kuliah bareng karena Tiara selalu bareng teman satu genknya atau dengan pacarnya. Namun beberapa hari ini aku tak melihat lagi Tiara bareng pacarnya yang bernama Rio, mahasiswa di kampus kami juga yang satu jurusan dengannya.
            “Oh iya, Ra. Akhir-akhir ini aku lihat kamu tak lagi bareng Rio. Kenapa?”
            “Aku sudah putus dengan Rio, Shil. Tapi aku tak akan bersedih. Cowok banyak yang antri untuk jadi pacarku, hehe…”
            Setuju sekali dengan ucapan Tiara. Benar, Tiara adalah cewek yang sangat cantik menurutku. Rambut panjang lurus, badan tinggi dan langsing seperti model, supel, dan semuanya deh. Dia sudah sering ganti-ganti pacar. Semua mantan pacarnya adalah cowok-cowok yang memang cakep dan punya banyak kelebihan. Hal yang wajar untuk seorang Tiara.
            Sedang asyik-asyiknya bercerita dengan Tiara, rombongan Jasuka Band masuk ke dalam kelas. Aku melontarkan senyumku pada mereka yang melambaikan tangannya padaku.
            “Cakep-cakep juga ya Jasuka Band kalau dilihat dari dekat begini. Kenalin dong, Shil!” bisik Tiara padaku.
            Aku menarik Tiara mendekati rombongan Jasuka Band.
            “Nih, ada temanku mau kenalan dengan kalian. Namanya Tiara, jurusan manajemen.” kataku pada mereka yang terlihat salah tingkah melihat kecantikan Tiara.
            Satu persatu Jasuka Band menyalami tangan Tiara yang putih dan lembut. Ketika salaman dengan Jason, Tiara menahan tangannya agak lama. Aku heran, jangan sampai Tiara terpikat oleh aura Jason. Aku tak mungkin bersaing dengan sosok Tiara. Pasti Jason akan lebih memilih Tiara dibanding aku.
***
            Beberapa minggu kemudian setelah perkenalan Tiara dengan para personil Jasuka Band, ternyata terungkaplah hal yang aku takutkan selama ini.
            “Aku resmi pacaran dengan Jason, Shila. Kemarin dia menembakku dan langsung saja aku terima. Jason kan keren dan imut. Tak mungkin aku menolaknya. Kamu setuju kan?” ungkap Tiara saat dia lagi main ke rumahku siang ini.
“Aku setuju dong, karena dia teman yang baik dan menurutku kalian sangat serasi. Selamat ya Tiara,” aku berusaha terlihat bahagia di depan Tiara. Padahal rasanya aku ingin menangis. Ternyata memang ini terjadi. Aku ingin bilang ke Tiara untuk  jangan  jadian  dengan Jason karena aku menyayanginya. Tapi itu tak mungkin, Tiara tentu akan menertawakan aku.
***
            “Maaf  ya, Shila. Tapi ini sudah menjadi keputusan Jason.” kata Ando dengan kepala tertunduk.
            Aku hanya mengangguk dan langsung berlari sambil menahan airmataku. Jason ingin Tiara yang menggantikanku sebagai manajer band mereka. Sebenarnya yang lain kurang setuju, tapi karena Jason mengancam dia akan berhenti dari Jasuka Band jika Tiara tidak diterima, dengan terpaksa yang lain hanya menurut karena tak ingin Jason keluar dari band mereka. Kata-kata Ando yang menjelaskan dengan wajah sedih tadi begitu membuatku terpukul. Aku terduduk di kursi halaman belakang kampusku. Menangis terisak menyesali sikap Jason yang tak adil bagiku. Aku juga menyesali kelemahanku sehingga Tiara yang berhasil memikat hati Jason dan sekarang dia juga berhasil mengambil posisi manajer Jasuka Band dariku.
            Beberapa hari ini, di rumah Tiara selalu ramai oleh Jasuka Band. Melihat mereka mengingatkanku saat diriku masih menjadi manajer mereka. Saat berpapasan dengan rombongan Jasuka Band kemarin  mereka masih menegurku. Kecuali Jason dan Tiara yang terlihat acuh. Mungkin mereka merasa tak enak denganku. Hari ini aku kembali mengamati rumah Tiara. Hanya ada motor Jason terparkir disana. Tak berapa lama kemudian, Jason keluar dan pamit pada Tiara untuk pulang.
            Aku masih mengamati rumah Tiara dari jendela kamarku. Beberapa menit setelah Jason pulang, Rio datang dan masuk ke rumah Tiara. Aku agak heran, kenapa Rio datang padahal mereka sudah putus. Kira-kira sekitar 15 menit kemudian Rio dan Tiara keluar, mereka terlihat seperti mau pergi. Aku hampir menjatuhkan gelas minumanku ketika melihat mereka berangkulan sambil bercanda. Tiara mencubit pinggang Rio dan Rio membalas dengan mencium pipi Tiara. Mereka masuk ke dalam mobil Rio dan berlalu.
            Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Mencoba mengerti tentang apa yang barusan dilihat oleh mataku. Aku tak sedang bermimpi saat ini. Ini nyata dan sangat nyata. Apa Tiara menduakan Jason? Tahukah Jason atau Rio tentang hal ini? Aku bingung sendiri. Aku sedang memikirkan Jason, kasihan sekali dia kalau ternyata memang telah diduakan oleh Tiara.
***
            “Coba kamu jelaskan Tiara!” kataku yang berhasil menyeret Tiara ke dalam kelas yang sepi.
            “Oke, berhubung kamu sudah mengetahui semuanya, aku akan cerita. Aku sudah balikan lagi dengan Rio setelah dua hari pacaran dengan Jason. Aku tak bisa menolak Rio karena aku masih mencintainya. Aku menyukai Jason tapi tak mencintainya. Aku hanya ingin mengambil posisi sebagai manajer Jasuka Band. Rio sudah tahu tentang ini dan dia tak keberatan. Hahaha…”
            “Ini tidak lucu. Teganya kamu mempermainkan Jason yang serius cinta padamu, Tiara. Kalau kamu ingin posisi itu, aku tak masalah. Tapi kamu tak seharusnya bohongi Jason seperti ini.”
            “Kenapa kamu marah-marah gitu? Hey dengar ya, memang aku pikirin! Aku mengerti kalau kamu ternyata menyukai Jason kan? Sudah terlihat kok dari awal sikapmu yang terlihat cemburu denganku yang dekat dengan Jason. Sudahlah Shila, aku mau kuliah nih,”
            Tiara segera beranjak keluar. Aku masih tetap di dalam kelas sambil merenung. Tiba-tiba terlihat Jason melintas di depan kelas ini. Aku keluar untuk memanggilnya dan menjelaskan semua kenyataan ini. Tapi apa yang ku dapat?
            “Kamu jahat sekali menuduh teman sendiri seperti itu. Kalau kamu iri karena posisi manajermu sekarang diambil alih oleh Tiara jangan sampai bersikap gitu dong! Kamu ingin menghancurkan hubungan kami kan. Kamu cemburu dengan Tiara karena dialah yang aku pilih dibanding dirimu? Jaga omonganmu! aku tak mungkin suka dengan cewek tukang fitnah sepertimu, Shila!” kata-kata kasar Jason menanggapi penjelasanku yang sebenarnya.
            Air mataku tak tertahan lagi untuk membanjiri pipiku. Percuma yang aku katakan tadi, Jason tak percaya dengan pernyataanku dan bilang akulah yang jahat. Teriris hati ini mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang dicintai.
***
            Sudah lewat sebulan hubungan Jason dan Tiara baik-baik saja. Aku tak mengerti kenapa Rio bisa membiarkan Tiara bermesra-mesraan di kampus dengan Jason, padahal Rio sedang di dekat mereka. Mungkin Rio terlanjur mencintai Tiara jadi dia setuju atas hal apapun yag ingin dilakukan Tiara. Tiara, kamu memang wanita hebat yang bisa berbohong dan membuat lelaki tunduk padamu.
            Malam ini malam minggu. Langit terlihat gelap tanpa bintang dan hanya ada sedikit bagian bulan yang mengintip. Sepertinya akan turun hujan yang sangat deras. Aku melamun lagi di dekat jendela kamar sambil memandangi langit dan rumah Tiara bergantian. Seperti biasanya, malam minggu seperti ini, Jason pasti ke rumah Tiara sehabis waktu isya. Aku bisa melihat Jason yang aku cintai sepuas mungkin yang biasanya akan mengobrol dengan Tiara di teras. Andai suatu hari nanti, Jason bisa jadi pacarku. Akulah yang akan diajaknya mengobrol dengan akrab seperti dengan Tiara.
            Jason telah datang tapi tak terlihat tanda-tanda kalau pagar rumah Tiara akan terbuka. Baru ku sadari kalau lampu rumah Tiara tidak hidup. Apa Tiara dan keluarganya sedang tak di rumah ya? Tapi kenapa Jason tak tahu soal itu dan dia tetap ke rumah Tiara?
            Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya mengguyur bumi. Disertai petir yang menyambar-nyambar. Aku masih melihat Jason yang duduk di depan pagar walau hujan membasahi seluruh tubuhnya. Aku meraih handphone dan menekan nomor Jason.
            “Halo Jason, sepertinya Tiara tidak ada di rumah karena lampu rumahnya saja tak hidup. Hujan sangat deras, sebaiknya kamu pulang saja!”
            “Aku akan tetap menuggu disini untuk meminta penjelasan dengan Tiara. Tiara berjanji akan membicarakannya malam ini,”
            Jason langsung memutuskan teleponku. Kasihan sekali membiarkan Jason sendirian hujan-hujanan di depan rumah Tiara. Aku ingin mengajaknya untuk menunggu di rumahku saja, tapi aku tak berani mengatakan itu. Satu jam kemudian selesainya aku menyalin catatan kuliah, kembali ku lihat Jason di luar. Kali ini sangat mengejutkanku. Jason telah terbaring pingsan diguyur hujan.
            Aku berlarian keluar menuju rumah Tiara. Tak ku hiraukan hujan deras yang membasahiku. Aku bawa Jason ke dalam rumahku dan meminta tolong satpam rumahku untuk membawa Jason ke dalam kamarku dan mengganti pakaian Jason. Tak berapa lama kemudian Jason sadar, dia masih terlihat lemah. Mamaku menawarkan teh hangat pada Jason. Diminumnya teh itu dengan perlahan. Jason memandangiku dengan lemah.
“Shila, maafkan aku. Selama ini ternyata omongan kamu itu benar. Tiara memang pacaran lagi dengan Rio. Siang tadi aku melihat mereka pelukan di kampus. Aku meminta penjelasan pada Tiara. Tapi dia bilang malam ini saja aku ke rumahnya untuk penjelasan itu. Ternyata dia bohong lagi padaku, dia memang tidak ada di rumah karena sedang makan malam bersama keluarga Rio. Tiara mengakui itu semua saat aku meneleponnya tadi. Mendengar semua itu aku merasakan sakit dan langsung pingsan. Maaf aku pernah marah-marah padamu, maaf aku memecatmu jadi manajer Jasuka Band dan maaf sekarang aku merepotkan kamu dan keluargamu, Shila.”
Aku tersenyum menanggapi pernyataan yang keluar dari mulut Jason. “Taka apa-apa, Jason. Aku sudah memaafkanmu tanpa kamu minta kok,” Aku menyuruh Jason untuk minum obat. Dia mengangguk kemudian tertidur setelah meminum obat pereda panas.
            Aku memandangi wajah Jason yang tertidur. Sungguh polos tidak terlihat angkuh seperti kesehariannya. Ku usap rambut Jason dan menyelimutinya. Selamat tidur Jason, semoga kamu tidak sampai sakit gara-gara kehujanan malam ini.
***
            Dua minggu kemudian aku jadian dengan Jason. Betapa bahagianya diriku. Jason akan menjadi cinta pertama dan terakhir untukku. Setelah kejadian hujan-hujanan dua minggu yang lalu membuat hubungan kami kian dekat dan akhirnya Jason menyatakan cintanya padaku. Aku kembali menjadi manajer Jasuka Band dan akrab dengan para personilnya seperti sedia kala. Satu minggu lagi akan ada acara besar di rumahku, acara pertunangan aku dan Jason.
“Semakin cepat semakin baik untuk mengikatmu, Shila.” kata Jason sambil menggenggam jemariku dengan mesra.
“Tentu. Aku mencintaimu, Jason.” ujarku seraya menatap mata Jason.
SELESAI



AKU BENCI BULAN
            Langit malam ini terlihat begitu indah, bintang bertaburan di atas langit gelap yang membentang. Terlihat sangat indah karena tak ada bulan di atas sana. Aneh ya, tak ada bulan kok dibilang sangat indah. Padahal dengan kehadiran bulan akan membuat langit malam menjadi lebih indah. Itu pendapat kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Mungkin orang-orang akan mengecapku cowok aneh, cowok yang tidak romantis atau cowok apalah gara-gara aku sangat membenci bulan. Hampir seluruh orang menyukai benda langit ini yang merupakan satu-satunya satelit alami bumi. Sebenarnya dulu aku sangat menyukai bulan, apalagi jika bulan tampak membulat sempurna. Sangat indah untuk dipandang. Namun, semua kesukaanku terhadap bulan hilang seketika karena terjadinya tragedi yang sampai saat ini tak bisa aku lupakan.
***
            “Pa, ayo dicepatkan saja laju mobilnya. Bulan selalu mengikuti kita nih!” kataku teriak-teriak pada papa sambil terus melongokkan kepalaku ke luar jendela mobil memandang bulan yang indah di langit.
            “Sabar sayang. Lihat tuh papa sudah ngebut,” ujar mama yang duduk di sebelah papa sambil senyum-senyum melihat tingkahku.
            Aku dan kedua orangtuaku sedang dalam perjalanan mengikuti arah bulan. Kami bertiga sama-sama menyukai bulan. Terlebih mama yang sangat maniak dengan satelit bumi ini. Perabot di rumahku hampir seluruhnya bergambar bulan. Malam ini saja baju yang kami kenakan bergambar bulan. Sengaja papa menyediakan waktunya malam ini buat aku dan mama. Biasanya malam-malam seperti ini papa sibuk berkutat dengan laptopnya di ruang kerja. Namun karena aku yang merengek-rengek minta keluar malam ini karena melihat langit malam begitu terang dan bulan terlihat penuh dan bercahaya begitu benderang.
            “Ma, bulan mengikuti kita terus. Hebat ya, dia cepat juga menyusul.” aku berkata pada mama yang juga lagi memandangi bulan dari jendela mobil.
            “Raka sayang, jika semakin jauh suatu benda, benda itu akan terlihat seperti mengikuti kita perlahan-lahan. Jarak gerak kita kecil jika dibandingkan dengan benda sebesar bulan. Jadi, bulan akan terlihat mengikuti kita ke mana pun kita pergi,” jelas papa sambil menyetir.
            Tiba-tiba di depan kami ada truk besar melaju dengan sangat kencang. Papa tak sempat lagi mengelak. Hanya mampu membanting setir ke kiri namun truk itu tetap menyenggol mobil kami. Mobil menabrak pohon dan terjadilah tragedi yang menghilangkan nyawa kedua orangtuaku. Hanya aku yang selamat karena duduk di bagian tengah mobil.
            Air mata membasahi pipiku jika mengingat tragedi yang terjadi 9 tahun yang lalu. Mulai dari tragedi itu hingga sekarang dan selama-lamanya aku akan membenci bulan. Orang tuaku meninggal disebabkan sedang melihat bulan yang dengan angkuhnya berdiri tegak di langit. Itu yang selalu mendominasi pikiranku tentang bulan yang menurutku dialah penyebab utama orangtuaku pergi untuk selamanya. Pokoknya aku begitu membenci bulan. Selama 9 tahun terakhir ini aku tak lagi keluar di waktu malam jika ada bulan bersinar. Melihat bulan akan membuatku bersedih dan menambah kebencianku.
***
            “Cewek itu bernama Bulan, Ka. Adik tingkat kita, cantik dan manis ya.” kata  Andre teman kuliahku yang menyadari sedari tadi aku memperhatikan cewek itu.
Mataku tak lepas dari Bulan yang lagi makan sambil mengobrol dengan dua orang temannya di kantin. Memang cantik, manis dan menarik. Dengan rambut lurus dan berponi indah, mata bulat, hidung bangir, bibir merah merekah, serta tingkahnya yang menggemaskan. Dia melihat ke arahku dan aku salah tingkah karena ketahuan. Dia tersenyum padaku dan aku balas senyumannya yang sangat indah. Tiba-tiba aku tersadar, menepiskan semua rasa kagum pada adik tingkatku itu. Aku tak suka dia karena bernama Bulan dan Bulan ternyata sangat menyukai bulan.  Walau dia semenarik apapun, aku akan berusaha untuk menjauhinya.
Setelah pertemuan kami di kantin itu, Bulan mencoba akrab dan mendekatiku. Andre bilang Bulan menyukaiku. Tak bisa bohong aku pun juga suka dia. Tapi masalahnya dia bernama Bulan. Andre yang tahu alasanku kenapa menjauhi Bulan menceritakan yang sebenarnya kepada Bulan. Beberapa hari kemudian Bulan datang menemuiku yang lagi mengetik skripsi di perpustakaan. Dia langsung duduk di sebelahku dan mengajak bicara.
            “Kak, Bulan sudah tahu semuanya. Tapi kakak egois,masa cuma gara-gara itu kakak jadi membenci Bulan juga. Bulan tahu kakak menyukai Bulan, kenapa harus menutupi perasaan itu, Kak?”
            “Kamu bilang ‘cuma’? Kamu tak mengerti dan kamu tak mengalaminya, Bulan. Tahu apa kamu?” jawabku yang langsung meninggalkannya keluar perpustakaan.
***
            “Halo Kak Raka. Lagi apa?” tanya Bulan dengan suaranya yang merdu di telepon.
            “Lagi tiduran saja sambil dengar musik.” jawabku dengan cuek.
            “Keluar sekarang ya, Kak. Bulan di depan rumah kakak. Bulan mau melihat bulan yang sangat indah di langit malam ini berdua sama kakak.”
            Aku terheran-heran dengan omongan Bulan. Langsung ku sibakkan tirai jendela kamarku. Benar, bulan sedang berdiri di depan rumahku dengan kepala tengadah ke atas memandangi bulan sambil tetap bicara denganku lewat handphonenya.
            “Aku tidak mau. Lagian siapa suruh kamu ke rumahku malam minggu gini mengajak melihat bulan segala. Kayak anak kecil saja.”
            “Ayolah, Kak. Please! Buang semua rasa benci kakak pada bulan. Kematian orangtua kakak itu bukan karena bulan. Itu kecelakaan, takdir yang sudah ditetapkan Tuhan. Bulan akan tetap menunggu kakak disini sampai kakak mau keluar.”
            Aku tetap bersikukuh dengan pendirianku untuk tidak keluar. Sudah lebih setengah jam Bulan menungguku di luar. Bulan dengan sabar menungguku sambil memperhatikan bulan di langit. Aku kasihan dengannya, ingin keluar sesuai keinginannya. Tapi egoku mengalahkan rasa kasihanku pada Bulan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Bulan. Aku menuju ke jendela dan melihat Bulan sudah terkapar. Dengan berlarian aku keluar rumah. Tak dapat terlukiskan perasaan sedihku ketika ku lihat Bulan terkapar dengan bersimbah darah. Mobil yang menabraknya melarikan diri.  Aku dan orang-orang yang melihat kejadian itu membawa Bulan ke rumah sakit. Belum sampai di rumah sakit, Bulan telah menghembuskan nafas terakhirnya.
“Bulaaaaaaaan. Maafkan aku!” aku berteriak sekencang-kencangnya.
*SELESAI*


KENYATAAN BUAT TARIN
 “Udah lama nunggu aku?“ tanyaku yang baru saja sampai di halte tempat bus yang akan membawa aku dan Dika ke kampus.
“Tidak kok Tarin. Yuk kita naik, tuh bisnya udah hampir penuh.” jawab Dika dengan senyuman.
Kami duduk di kursi paling depan yang masih kosong. Dika adalah teman sahabatku yang beberapa hari lalu kami bertemu di salah satu warnet dekat rumahku. Novita mengenalkan dia padaku. Ternyata aku dan Dika satu kelas. Dari sanalah aku bisa langsung akrab dan mulai menjalin persahabatan. Meskipun baru bersahabat, aku dan Dika sudah seperti sahabat yang telah lama saling mengenal. Setiap hari kami pergi dan pulang kuliah bersama-sama. Belajar dan mengerjakan tugas  juga bersama. Sampai-sampai ada teman kami yang menyangka kalau kami pacaran. Padahal itu salah besar. Dika baik dan perhatian dengan aku hanya sebatas sahabat dan aku juga begitu.
“Rin, ntar pulangnya aku tunggu di tempat biasa ya.” kata Dika kepadaku setelah bus sudah sampai di kampus.
“Oke, Ka.” jawabku singkat dengan anggukan kepala.
Sesampainya di depan pintu ruang kuliah, Dika langsung masuk dan aku masih tetap di depan karena dari kejauhan aku melihat sahabatku Fitri melambaikan tangan.
“Ehem...ehem...Tetap kompak ya dengan sahabat spesial, hehe...” cerocos Fitri.
Pasti tadi dia melihat aku dengan Dika, “Eh… Apaan sih Fit maksudnya?”  tanyaku pura-pura tidak mengerti.
“Udah ah, tidak penting. Yuk kita masuk saja.” jawab Fitri yang langsung menyeret tanganku.
***
Aku baru saja keluar dari ruang kuliah. Kulihat jam di handphoneku pukul 3 sore. Hari ini aku memang ada mata kuliah umum sampai sore.
“Dika nunggu dimana Rin?” tanya Novita.
“Di musholla Nov, kita langsung kesana saja sekalian shalat ashar.” jawabku.
Aku dan Dika beda hari untuk mata kuliah umum. Namun, dia tetap mau menunggu diriku untuk pulang bersama. Dika memang sahabat yang baik.
Drrt… Handphoneku bergetar ada sms masuk dari Dika.
‘Rin…udh shltnya? Aku tnggu di bwah ya...’
Dika sms aku dan langsung kubalas.
‘Udh kok  Ka, Tnggu ya…’
Aku melambaikan tangan dengan  Novita dari jendela bus. Novita tidak pulang bersama kami karena memang tempat tinggalnya tidak satu arah dengan kami.
***
Beberapa hari ini aku merasakan sesuatu hal yang cukup aneh. Perasaan yang selalu ingin dekat dengan Dika, selalu ingin sms dan telpon dia. Bahkan aku ingin ia selalu nungguin aku pulang kuliah. Aku tidak mau kehilangan dia. Saat aku jelaskan ke Dika, ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Maka dari itu, kami menjadi makin dekat. Persahabatan kami sangat indah dan aku bahagia memiliki sahabat sebaik Dika. Tidak kalah baiknya dengan Novita dan Fitri sahabatku.
Setiap hari banyak cerita yang kami bicarakan, mulai dari mata kuliah sampai hal pribadi. Dika pernah menceritakan kalau saat ini dia punya pacar tapi mereka berjauhan. Pacarnya tinggal di kota lain. Aku khawatir suatu saat pacarnya Dika tahu kalau kami sangat dekat walau dekatnya kami hanya sebatas sahabat, Namun kekhawatiran aku sirna saat Dika pernah bilang kalau pacarnya tidak keberatan kalau aku dekat dengan dia.
“Dia tidak marah kok Rin, dia mengerti kalau kita hanya sahabatan saja.” ujar Dika serius.
“Alhamdulillah kalau begitu” balasku dengan senyuman.
“Kamu juga harus cari pacar dong Tarin, biar kapan-kapan kita bisa saling mengenalkan pasangan masing-masing.” kata Dika sambil mengacak rambutku.
“Aku tadk mau punya pacar, kan udah ada kamu, Ka.” candaku sambil membalas mengacak rambutnya juga dan aku langsung berlari menjauh.
“Tunggu dong Tarin…!” teriak Dika.
***
Aq mnyesal shbtn dgn kmu Rin,gak da trma ksh.
Pesan singkat dari Dika satu menit yang lalu sangat meresahkan hatiku. Aku tidak menyangka dia akan bilang begitu. Padahal penyebabnya sangat sepele, Dika marah saat dia ketemu aku yang lagi jalan dengan teman laki-laki. Sebenarnya aku pergi ramai-ramai dengan teman-teman SMA ku dulu. Namun kebetulan saat Dika lihat aku, aku lagi ngobrol berdua dan akhirnya Dika jadi salah paham.
“Enak ya bisa jalan dengan cowok dan ganti ganti terus. Setelah aku dan cowok tadi siapa lagi yang akan jalan dengan kamu?” kata Dika dengan wajah dingin.
“Kamu kenapa sih Ka, kok bilang ngelantur begini? Jaga omongan kamu!” balasku dengan emosi.
Dika langsung pergi begitu saja meninggalkan aku yang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Aku kesal dan sedih dengan perkataan Dika beberapa jam yang lalu. Sampai saat ini percakapan kami di jalan tadi terngiang-ngiang di telingaku. Aku berpikir lebih baik aku sms untuk  minta maaf saja ke dia karena aku tidak mau persahabatan kami hancur gara-gara hal yang kurang jelas seperti ini. Namun aku sangat tidak menyangka Dika akan membalas sms aku seperti tadi.
***
Sudah dua minggu aku dan Dika tidak bertegur sapa, dia marah sekali denganku. Aku bingung dan menuruti saja keinginan dia untuk tidak saling teguran. Teman-teman yang lain terheran-heran melihat aku dan Dika seperti ini, tidak terlihat bersama-sama lagi.
Seusai kuliah aku, Nita dan Fitri langsung menuju ke kantin dan memesan minuman. Cuaca siang ini sangat terik sehingga membuat kami kehausan..Di kantin kami bertemu dengan Novita. Tiba-tiba saja aku tercengang karena Dika sudah duduk di sampingku.
“Rin, aku minta maaf ya atas kejadian kemarin-kemarin. Kita baikan dan sahabatan lagi ya. Kamu mau kan?” kata Dika lembut sambil menatapku.
Sungguh aku tidak percaya degan sikap Dika yang tiba-tiba jadi begini. Dika yang kemarin begitu emosian dan marah ehh malah sekarang minta maaf duluan.
“Iya Dika. Aku juga minta maaf ya.” balasku yang masih bingung, Namun aku bahagia.
“Cie…cie…Sudah baikan nih. Ayo traktir kami dong, Ka.” ujar Nita seraya mengerlingkan mata dan dibalas Dika dengan wajah cemberut.
“Hahaha…” aku, Novita dan Fitri tertawa.
***
Ujian semester sudah selesai. Aku dan teman-teman satu organisasi mengadakan liburan ke luar kota. Kami sangat menikmati liburan kali ini, apalagi Fitri dan Novita ikut juga jadi tambah seru bisa pergi bersama sahabat dekatku. Satu minggu lamanya kami berada disana. Bukan hanya liburan namun kami juga mendapat banyak pengetahuan dan ilmu baru. Selain itu kami juga bisa lebih mengenal dan lebih dekat dengan teman-teman yang lain juga kakak tingkat yang sebelumnya dikenal cuek dan mau marah-marah saja ternyata mereka sangat baik dan bersahabat.
Satu kenangan yang membuat aku juga bahagia ketika saat liburan, aku menjadi dekat dengan seorang cowok yang selama ini aku belum terlalu mengenal dia dan kami hanya bertemu jika ada rapat atau acara di organisasi saja. Namun entah kenapa liburan ini menjadikan kami begitu dekat dan akhirnya saat pulang dari liburan dia menyatakan cinta. Aku terima saja karena memang aku juga suka dia. Raka adalah cowok pertama yang berhasil mencuri hatiku dan sekaligus pacar pertamaku. Akhirnya dengan dia lah aku berani untuk pacaran. Fitri, Novita dan Nita pun sudah setuju dengan hubungan kami
Satu lagi sahabatku yang belum tahu kalau aku sekarang sudah memiliki pacar. Dika,  pasti dia akan terkejut karena cepat sekali dan tanpa cerita-cerita dulu ke dia. Namun yang pasti dia juga akan turut bahagia karena dari dulu dia yang paling cerewet menyuruhku untuk punya pacar.
“Ka, kamu setuju kan?” tanyaku dengan wajah ceria setelah panjang lebar aku bercerita tentang bagaimana aku bisa jadian dengan Raka.
“Terserah Rin.” jawab Dika singkat dan seperti tidak bersemangat. Padahal aku sudah semangat 45 menceritakan semuanya dengan Dika.
“Ya sudah. Tapi kok kenapa kamu seperti lagi tak semangat, Dika?” tanyaku lagi.
“Tarin, aku pulang dulu ya. Sudah ada janji dengan temanku.” kata Dika tanpa menjawab pertanyaan aku tadi. Dia langsung beranjak keluar . Aku jadi terheran-heran dengan sikap dia yang tak seperti biasanya. Dasar Dika suka aneh-aneh dan sering buat bingung.
***
Dika berubah 180 derajat. Tiba-tiba dia memutuskan persahabatannya dengan aku.
“Sekarang kamu sudah punya pacar Rin. Aku tidak mau entar timbul salah paham kalau aku tetap dekat dan sahabatan dengan kamu. Kita jadi teman biasa saja ya mulai sekarang.”
Aku teringat kata-kata Dika kemarin. Aku maklum dengan alasan dia tapi apakah harus putus bersahabat? Aku jadi makin bingung.
Ah…Masa bodoh deh. Jangan terlalu dipikirin, Dika memang selalu buat aku bingung. Lagian sahabat aku bukan hanya dia dan sekarang aku sudah punya orang yang akan menggantikan untuk memberikan perhatian khusus ke aku, Raka.
***
Matahari sudah menyelinap dibalik awan. Mungkin sudah kelelahan menyinari seluruh bumi. Oleh karena itu, cuaca siang ini tidak panas seperti biasanya. Sepertinya sebentar lagi matahari akan benar-benar menghilang dan digantikan awan hitam yang sudah siap untuk menurunkan hujan ke bumi.
“Tarin, pulang yuk. Sepertinya mau hujan deras.” kata Raka yang tiba-tiba sudah ada di depanku dengan senyumannya yang paling aku sukai.
“Fit, Nov, aku duluan ya.” kataku pamit dengan Fitri dan Novita yang sedari tadi kami mengobrol di depan ruang kuliah.
“Hati-hati Rin pulang dengan Raka entar diculiknya loh, hehe…”kata novita bercanda
“Jaga Tarin baik-baik ya Raka, awas kalau sampai sahabat kami kenapa-kenapa.” sambung Fitri dengan lirikan mata jenaka.
“Iya iya. Tenang aja kalian semua. Aku siap menjaga putri Tarin.” balas Raka sambil memandangku. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Kami langsung menuju terminal kampus. Raka memegang tanganku setelah kami sudah berada dalam bus untuk pulang. Raka terus memandangiku.
“Kenapa?” tanyaku heran
“Aku sayang kamu Tarin.” jawab Raka serius sambil tersenyum.
Suka banget deh dengan senyuman Raka. Manis dan buat aku terus mengingatnya. Mungkin senyuman Raka lah yang buat aku bisa menerima dia untuk jadi pacarku.
“Aku juga Raka.” kataku menanggapi pernyataan Raka.
***
Satu bulan kemudian, hubunganku dengan Raka berakhir . Mungkin sudah takdirnya kalau kisahku dengan Raka akan berakhir sesingkat ini sama halnya dengan kedekatanku pada Dika dulu. Raka  mengakhiri hubungan kami dengan alasan kalau sikap aku ke dia seperti tidak mencintai dan menyayangi dia. Aku bingung, hal yang sangat aneh untuk dijadikan sebagai alasan. Tapi aku hanya pasrah. Pasti ini jalan terbaik yang diberikan Allah untukku.
“Sabar ya Rin. Walau kamu sudah kehilangan Raka kan masih ada kami bertiga.yang akan selalu ada untuk kamu Tarin.” hibur Novita yang diiyakan Fitri dan Nita saat aku curhat dengan mereka.
“Terima kasih sahabatku.” balasku ke mereka dan kami berempat saling berpelukan.
Kupandangi langit malam ini. Bulan tidak terlihat namun bintang begitu banyak bertebaran di atas langit malam yang agak gelap. Bintang-bintang membuat langit sedikit terang dan menjadikannya sangat indah, seolah menari-nari dan tersenyum kepadaku.
Mulai besok aku akan menjalani hari-hari kuliahku sama seperti pertama kali aku masuk kuliah. Tanpa seorang sahabat seperti Dika dan tanpa seorang pacar seperti Raka. Biarlah mereka berdua jauh dari hidupku dan hanya menjadi kenangan indah  yang sempat mewarnai hariku. Besok dan hari-hari selanjutnya akan aku jalani bersama ketiga sahabatku saja yang benar-benar akan setia, baik dalam suka maupun duka. Aku harus tegar dan harus percaya bahwa kenyataan ini merupakan anugerah buatku. Suatu saat cinta sejati itu pasti akan datang, namun belum untuk saat ini.
“Aku berjumpa dengan Dika dan sekarang aku sudah tidak dekat lagi dengan dia. Satu bulan yang lalu Raka hadir di hidupku dan hatiku. Akan tetapi kemarin dia sudah berlalu dari  kehidupanku. Cukuplah aku kehilangan mereka berdua ya Allah…Namun jangan kau pisahkan aku dari sahabatku, Novita, Fitri dan Nita.Amiin…” doaku dalam hati.
Kenyataan yang sebenarnya tidak kita harapkan sangatlah pahit rasanya. Namun bagaimanapun kenyataan pahit tersebut harus kita hadapi, karena di penghujung terakhir kenyataan itu akan ada anugerah terindah buat kita yang mau bersabar… ^_^
SELESAI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar